Showing posts with label Gus Mus. Show all posts
Showing posts with label Gus Mus. Show all posts

Monday, August 03, 2009

Hubbud-dunya adalah Akar Korupsi

Kita semua sudah anti korupsi, kecuali para koruptor itu sendiri. Kemudian, ada juga banyak orang yang ingin memecahkan problem korupsi, sepertinya berputar-putar di situ saja. Kyai-kyai yang diharapkan menjadi pewaris nabi dengan kepahamannya atas segala macam, ternyata juga banyak yang belum paham.

Apakah problem korupsi seolah lingkaran setan? Dari mana? Kenapa ada masalah korupsi, nepotisme, dst? Saya berpikir bahwa korupsi dan saudara-saudaranya itu jelas ada asal muasalnya. Menurut saya sumbernya adalah dunia itu sendiri. Kita sebenarnya sudah hafal dengan maqalah bahwa:

حُبُ الدُّنْيَا رَآْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ

Cinta dunia adalah pangkal segala malapetaka

Sayangnya, justru seringkali tanpa sadar kita amalkan juga. Nah, saya sangat percaya bahwa sumber malapetaka di negeri ini bermuara kepada cinta dunia yang belebihan, termasuk dalam soal korupsi ini. Jadi, kalau zaman Bung Karno panglimanya politik, zaman Pak Harto panglimanya politik ekonomi, zaman sekarang panglimanya kepentingan; kepentingan duniawi. Ada orang berkelahi, coba cari sumbernya, tentu kepentingan. Orang Islam dengan orang Islam berkelahi, orang NU dengan orang NU berkelahi, itu tidak mungkin berebut surga, tapi sumbernya adalah kepentingan.

Kita semua, dari kyai-kyai pendahulu kita diajarkan bahwa dunia ini hanya sekedar wasilah, bukan ghayah (tujuan). Bahwa hidup di dunia ini ibarat sekedar mampir minum. Tapi negara yang membangun ekonomi sejak Suharto ini meniru negara barat yang berorientasi dunia (material). Akhirnya masyarakatnya juga sama dengan masyarakat sana. Kalau sudah segalanya dunia, al Quran dibaca beribu kali itu tidak akan berpengaruh, apalagi al Quran hanya dagingnya saja (dipahami simbolik saja). Dzikir atau istighatsah tidak akan ada gunanya, kalau Cuma daging saja. Sama dengan dzikirnya Inul, daging saja. Karena itu, seperti apa yang saya katakan, bahwa sumber dari segala sumber itu adalah konsep dunianya kita sudah berubah jauh. Di bawah sadar, diam-diam kita sudah tidak lagi menganggap dunia sebagai perantara/wasilah, tetapi sebagai tujuan. Jadi, karena orientasi inilah korupsi terjadi. Karena itu, kalau ada kesempatan, walaupun tidak ada niat, tidak akan terjadi, dan niat ini, melalui orientasi niat dia semata terhadap dunia.

Orientasi dunia ini dipertebal dengan orientasi yang begitu simbolik atas keberagaman kita. Terlihat situasi sekarang yang berkembang adalah bahwa kita beragama lebih bersifat simbolik, atau tidak substansial. Bahasa saya simbolik itu saya katakan ‘daging’. Negeri kita Indonesia ini, mungkin sudah dapat dikatakan sebagai ‘negeri daging’. Dan akhir-akhir ini, simbol daging yang paling daging pernah terjadi pada rebut-ribut fenomena Inul. Karena itu, lukisan yang saya buat menanggapi fenomena itu, saya beri judul "Dzikir bersama Inul". Semua ini bagian kecil saja dari hal yang meliputi problem kita tentang korupsi.

Tampaknya, keberagaman kita sudah jatuh pada yang sifatnya daging-daging saja. Saat ini, saya kira kita menyaksikan orang jihad fi sabilillah untuk mengegolkan pelajaran agama dimasukkan dalam sekolah-sekolah formal, mulai TK sampai perguruan tinggi. Tetapi, mereka sama sekali tidak melihat pelajarannya itu seperti apa. Padahal, ujiannya hanya seperti berapakah rukun shalat? Kalau jawaban angkanya benar, lulus begitu saja, entah soal paham makna shalat atau tidak, tidak menjadi masalah. Jadi, daging semua. Sekarang ini, substansial/ruh itu sudah semakin jauh, karena kita sudah ke daging dan daging. Jadi, kalau kita ingin mengembangkan gerakan anti korupsi, kita tidak boleh terjebak pada gerakan anti korupsi yang sifatnya ‘daging’nya saja. Sejak awal, kita juga harus mulai melihat dari akarnya, hingga menghentikan korupsi waktu dan lain sebagainya.

Melihat kondisi yang sudah carut marut demikian, seringkali karenanya saya menaruh harapan pada yang muda. Memang, harapan saya tinggal anak-anak muda dan kyai-kyai yang muda juga. Kenapa demikian? Karena, seperti yang sudah saya sebut di atas, banyak yang tua-tua itu, selam 30 tahun ini dididik dan terdidik dengan kecintaan dunia yang mungkin sebagian besar juga mengambil keteladanan Pak Harto. Kita ini sudah jauh dari nilai-nilai kita sendiri. Bagaimana kita mau melawan kebusukan-kebusukan dan semua yang korup, kalau kita sendiri tidak tahu bahwa kita ini busuk atau tidak? Jadi, harapan memang pada yang muda. Karena, yang muda-muda ini relatif belum tercemari model pendidikan hubb al dunya itu dan masih dapat menjaga diri mereka. Merekalah kini memang yang mengerti ‘aturan’ itu, juga yang sebenarnya paham al Quran, seperti telah saya katakan tadi. Selain modal sikap ‘tidak serba dunia’ ini, penting pula mereka yang muda ini paham juga masalahnya, asal-usul korupsi itu apa, dan kalau kita mau melawan dengan model seperti apa.

Dari kalangan NU kultural telah muncul gagasan, bahwa Bahtsul Masail pun bisa kita jadikan sarana untuk berjuang mengingatkan atau (bahkan) mem-pressure orang. Malah Musyawarah Nasional Ulama NU sendiri telah mengeluarkan suatu keputusan mengenai koruptor mati tidak dishalati, yang bisa menjadi awalan sanksi sosial yang berani untuk membangun gerakan anti korupsi dari masyarakat atau rakyat yang selama ini paling banyak dirugikan tindak korupsi tersebut. Nah, di sini kita masih punya optimisme, bahwa mereka dapat mengurangi dan mencegah kecarutmarutan, termasuk yang sangat merusak bangsa seperti korupsi ini.

Saya tadi sudah menyampaikan, sumber korupsi yang paling utama adalah dunia ini. Kita semua, dari kyai-kyai pendahulu kita diajarkan bahwa dunia ini hanya wasilah, bukan ghayah. Kemudian dari pemahaman ini tergantung kitanya sendiri. Mereka yang di pemerintahan siap menerima masukan, kalau kita tidak siap menyampaikan apa-apa, ya tetap saja seperti itu. Sekarang ini kesempatan, NU/kyai sedang jadi primadona lagi di Indonesia ini. Tapi sekali lagi, karena kita juga murid-murid perdagingan itu semua, kyai-kyai sekarang ini mikirnya calon presiden, pilkada dan yang sebangsa itu. Dukungan ini, itu, gitu thok. Itukan sama dengan orang bilang Allahu Akbar di jalan-jalan yang hanya gembar gembor daging.

Nah, saya mengharapkan supaya kyai-kyai muda ini tidak menduplikat model sebagian kyai-kyai lama yang sudah merasa puas dengan apa yang disebut yang simbolik tadi. Kita mempunyai tanggung jawab yang besar, bukan hanya memandaikan masyarakat, tetapi juga menyejahterakan, membikin maslahah bagi masyarakat. Kalau masyarakat ini kacau, karena adanya mereka yang korup-korup, bagaimana kita menolong masyarakat itu, dengan memperbaiki yang korup-korup. Dengan kata yang lebih singkat, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab kita itu seberapa besar. Apakah tanggung jawab kyai itu hanya di pesantrer saja ataukah ingin lebih dari itu? Sekarang yang diwarisi itu siapa? Kalau yang diwarisi itu Nabi Muhammad SAW, kita tahu, selain dia nabi juga rasul. Jadi yang diwariskan adalah nubuwwah dan risalah. Bahkan, kyai-kyai telah melaksanakan yang nubuwwah itu, tapi yang risalah sudah diwarisi atau belum? Istilah saya, ada kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Ternyata yang sosial itu sudah jarang disentuh. Kita perlu memikirkan bagaimana keagamaan kita hingga persoalan sosial ini dapat dimengerti akar, daging dan juga kulitnya. Sementara ini, di kalangan NU cultural mulai berkembang, misalnya bagaimana bisa ada fiqh tembakau, dulu ada fiqh tanah, nanti ada fiqh tebu. Tujuan berbagai macam fiqh itu, bukan hanya membahas masalahnya, tetapi ada ikut-ikutannya, ada tindak lanjut dan rekomendasi dari Bahtsul Masail itu. Ini tidak bisa dilakukan, kecuali kita memahami sejauh mana tanggung jawab kita yang sebenarnya. Di sini, kata orang Jakarta, kita perlu paradigma keagamaan yang bisa membangun pemberdayaan rakyat yang terpinggirkan. Atau istilah tadi, selain kesalehan ritual, kita perlu sekali membangun kesalehan sosial.

Jadi, saya menaruh harapan bahwa reformasi di Indonesia (termasuk terhadap korupsi yang besar) tidak bisa dilakukan, kalau tidak ada reformasi keberagamaan. Reformasi keberagamaan juga tidak bisa diharapkan, kecuali melalui kyai-kyai dan santri-santri yang masih segar dan jernih, yang belum terkontaminasi budaya berorientasi dunia itu. Tapi, kita juga perlu peta perhatian kyai itu apa saja dan apa yang kita bisa lakukan. Ini semua harus kita pahami. Kalau tidak kita akan menambah jumlah orang yang antikorupsi, tetapi tidak menyelesaikan apa-apa. Anti-anti tok! Sekali lagi, saya mengharapkan kaum muda untuk betul-betul peduli secara menyeluruh terhadap persoalan-persoalan yang kita hadapi, terutama terkait korupsi. Kemudian, keluarkan perbendaharaan Anda mengenai pedoman-pedoman peraturan keagamaan yang sudah Anda kuasai, bagaimana kita menyiasati itu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sudah Anda ketahui itu. Dengan demikian, Anda akan memberikan sumbangan yang luar biasa dan tidak hanya ilmiah saja, tetapi (lebih dari itu) juga sebagai sumbangsih pengkhidmatan kepada masyarakat.

READ MORE - Hubbud-dunya adalah Akar Korupsi

Islam Ngotot Muncul dari Kota

Budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyatakan, Islam yang ngotot atau Islam pethenthengan, itu muncul dari kota, bukan dari desa. Karena lumrahnya, orang-orang desalah yang masih setia merawat Islam yang toleran, tengah-tengah dan yang tidak ngotot. “Ini yang bikin saya bangga dengan desa. Ini menurut pengamatan saya yang agak lama. Mungkin saya salah,” katanya tawadhu’.

Ia juga menyatakan, buku-buku karya Abu al-A’la Maududi, Sayyid Qutub, Hasan al-Banna dan sebagainya, kebanyakan diterjemahkan orang kota. “Saya ndak melihat dari kalangan ndeso atau pesantren yang menerjemahkan buku-buku ini,” ujarnya.

Dan memang, diakui Gus Mus, kini semangat keberagamaan yang berlebihan justru muncul dari kota. Semisal Kota Jakarta, Bandung, Solo dan sebagainya. Karena demikian menggebu-gebunya dalam beragama, katanya, akhirnya timbul Islam yang ngotot atau pethenthengan itu. “Kalau nggak begini, nggak sesuai mereka, pokoknya jahannam,” katanya.

Gus Mus menyayangkan semangat orang kota ini, karena acapkali kengototan itu tak dibarengi dengan ketekunan belajar agama. Akhirnya, imbuhnya, terjadi ketidakseimbangan antara semangat keberagamaan dengan pemahamannya terhadap ajaran agama. “Repotnya, lalu mereka merasa seolah-olah mendapat mandat dari Gusti Allah untuk mengatur orang di dunia ini,” kritiknya.

Gus Mus juga mengritik perilaku anarkis kelompok Islam tertentu atas kelompok lain yang berbeda, dengan alasan supaya mereka dicintai Allah SWT. Mereka ini, kata Gus Mus, sesungguhnya belum mengenal Allah SWT, karena Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang atas hamba-hamba-Nya.

“Orang yang tidak kenal Gusti Allah tapi ingin menyenangkan-Nya, salah-salah malah mendapat marah-Nya. Jadi tidak logis ada orang mau menyenangkan Allah SWT, tapi tidak mengenal-Nya,” tegas Gus Mus.

Inilah sejatinya, kata Gus Mus, kelompok Islam yang ngaji agamanya tidak tutug alias tidak tuntas. Mereka baru belajar bab al-ghadhab (pasal marah), lantas berhenti mengaji. Dan mereka mengira ajaran Islam hanya sependek itu. Efeknya, ke mana-mana bawaan mereka marah melulu. Padahal, masih ada bab selanjutnya tentang tawadhu’, sabar, dan seterusnya. Mereka inilah yang menjadi masalah, karena siapapun yang berbeda pasti akan disalahkan dan disesatkan.

“Dan sikap pethenthengan ini yang menjadi awal tidak adanya toleransi. Karena pethenthengan juga, kadang orang yang beragama melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya secara tidak sadar. Tapi kalau dasarnya cinta, seperti kaum sufi, itu nggak ada pethenthengan,” ujarnya.

Untuk itu, Gus Mus berpesan, hendaknya kaum muslim belajar terus tanpa henti. Dan berfikirlah segila mungkin, toh ayat al-Qur’an yang menyuruh berfikir itu sama banyaknya dengan ayat al-Qur’an yang menyuruh untuk berzikir. “Jadi, jangan pasang plang dulu ‘saya wakil Pengeran’. Tapi pelajari dulu yang dalam. Kalau tidak, alih-alih dicintai Allah SWT, tapi malah dibenci-Nya,” katanya mengingatkan.

Penulis buku Membuka Pintu Langit (Kompas: 2007) ini lantas mengritik perilaku kelompok Islam tertentu yang gemar merusak properti milik Jemaah Ahmadiyah atau memukuli jemaahnya, karena menganggap mereka sesat. Gus Mus menamsilkan, ada orang yang hendak pergi ke Jakarta lalu berhenti di Rembang Jawa Tengah. Ia lantas berjalan terus ke arah Surabaya. “Mau ke mana?” tanya Gus Mus. “Mau ke Jakarta!” jawab orang itu.

“Saya lalu bilang, mau ke Jakarta kok ke timur? Berarti kamu ini salah alias sesat. Ya, saya tempeleng saja. Apa begini caranya? Cara ini kan nggak bener dan lucu,” kata Gus Mus heran.

Ini terjadi, kata Gus Mus, tak lain karena orang belajar ajaran agamanya tidak tutug atau tuntas. “Baru sarjana muda leren (selesai), lalu merasa sudah S3,” sindirnya.[nhm]
READ MORE - Islam Ngotot Muncul dari Kota