Tuesday, August 04, 2009

GELAR

Timur Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.

“Nasrudin,” katanya suatu hari, “Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil ‘Alallah, Al-Mu’tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?”

Cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama, Nasrudin menemukan jawabannya. “Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah* saja.”

* “Aku berlindung kepada Allah (darinya)”

READ MORE - GELAR

ITIK BERKAKI SATU

Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.

Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, “Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ?”

“Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Anda tidak percaya, cobalah lihat di kolam.”

Mereka berdua berjalan ke kolam. Di sana, banyak itik berendam sambil mengangkat sebuah kakinya, sehingga nampak hanya berkaki satu.

“Lihatlah,” kata Nasrudin puas, “Di sini itik hanya berkaki satu.”

Tentu Timur Lenk tidak mau ditipu. Maka ia pun berteriak keras. Semua itik kaget, menurunkan kaki yang dilipat, dan beterbangan.

Tapi Nasrudin tidak kehilangan akal. “Subhanallah,” katanya, “Bahkan itik pun takut pada keinginan Anda. Barangkali kalau Anda meneriaki saya, saya akan ketakutan dan secara reflek menggandakan kaki jadi empat dan kemudian terbang juga.”

READ MORE - ITIK BERKAKI SATU

KELEDAI MEMBACA

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

“Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”

Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?”

Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?”

READ MORE - KELEDAI MEMBACA

KEADILAN DAN KELALIMAN

Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :

“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :

“Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”

Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

READ MORE - KEADILAN DAN KELALIMAN

TEORI KEBUTUHAN

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,

“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”

Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”

Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”

Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”

Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”

Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”

Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”

Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”

READ MORE - TEORI KEBUTUHAN

PERUSUH RAKYAT

Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.

“Menjauhlah engkau, hai mullah!” teriak pengawal. [Nasrudin dikenali sebagai mullah karena pakaiannya]

“Mengapa ?” tanya Nasrudin.

“Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !”

“Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?”

“Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !”

“Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?” kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.

READ MORE - PERUSUH RAKYAT

API

Hari Jum`at itu, Nasrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,

“Api ! Api ! Api !”

Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,

“Dimana apinya, Mullah ?”

Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,

“Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah.”

READ MORE - API

Monday, August 03, 2009

Hubbud-dunya adalah Akar Korupsi

Kita semua sudah anti korupsi, kecuali para koruptor itu sendiri. Kemudian, ada juga banyak orang yang ingin memecahkan problem korupsi, sepertinya berputar-putar di situ saja. Kyai-kyai yang diharapkan menjadi pewaris nabi dengan kepahamannya atas segala macam, ternyata juga banyak yang belum paham.

Apakah problem korupsi seolah lingkaran setan? Dari mana? Kenapa ada masalah korupsi, nepotisme, dst? Saya berpikir bahwa korupsi dan saudara-saudaranya itu jelas ada asal muasalnya. Menurut saya sumbernya adalah dunia itu sendiri. Kita sebenarnya sudah hafal dengan maqalah bahwa:

حُبُ الدُّنْيَا رَآْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ

Cinta dunia adalah pangkal segala malapetaka

Sayangnya, justru seringkali tanpa sadar kita amalkan juga. Nah, saya sangat percaya bahwa sumber malapetaka di negeri ini bermuara kepada cinta dunia yang belebihan, termasuk dalam soal korupsi ini. Jadi, kalau zaman Bung Karno panglimanya politik, zaman Pak Harto panglimanya politik ekonomi, zaman sekarang panglimanya kepentingan; kepentingan duniawi. Ada orang berkelahi, coba cari sumbernya, tentu kepentingan. Orang Islam dengan orang Islam berkelahi, orang NU dengan orang NU berkelahi, itu tidak mungkin berebut surga, tapi sumbernya adalah kepentingan.

Kita semua, dari kyai-kyai pendahulu kita diajarkan bahwa dunia ini hanya sekedar wasilah, bukan ghayah (tujuan). Bahwa hidup di dunia ini ibarat sekedar mampir minum. Tapi negara yang membangun ekonomi sejak Suharto ini meniru negara barat yang berorientasi dunia (material). Akhirnya masyarakatnya juga sama dengan masyarakat sana. Kalau sudah segalanya dunia, al Quran dibaca beribu kali itu tidak akan berpengaruh, apalagi al Quran hanya dagingnya saja (dipahami simbolik saja). Dzikir atau istighatsah tidak akan ada gunanya, kalau Cuma daging saja. Sama dengan dzikirnya Inul, daging saja. Karena itu, seperti apa yang saya katakan, bahwa sumber dari segala sumber itu adalah konsep dunianya kita sudah berubah jauh. Di bawah sadar, diam-diam kita sudah tidak lagi menganggap dunia sebagai perantara/wasilah, tetapi sebagai tujuan. Jadi, karena orientasi inilah korupsi terjadi. Karena itu, kalau ada kesempatan, walaupun tidak ada niat, tidak akan terjadi, dan niat ini, melalui orientasi niat dia semata terhadap dunia.

Orientasi dunia ini dipertebal dengan orientasi yang begitu simbolik atas keberagaman kita. Terlihat situasi sekarang yang berkembang adalah bahwa kita beragama lebih bersifat simbolik, atau tidak substansial. Bahasa saya simbolik itu saya katakan ‘daging’. Negeri kita Indonesia ini, mungkin sudah dapat dikatakan sebagai ‘negeri daging’. Dan akhir-akhir ini, simbol daging yang paling daging pernah terjadi pada rebut-ribut fenomena Inul. Karena itu, lukisan yang saya buat menanggapi fenomena itu, saya beri judul "Dzikir bersama Inul". Semua ini bagian kecil saja dari hal yang meliputi problem kita tentang korupsi.

Tampaknya, keberagaman kita sudah jatuh pada yang sifatnya daging-daging saja. Saat ini, saya kira kita menyaksikan orang jihad fi sabilillah untuk mengegolkan pelajaran agama dimasukkan dalam sekolah-sekolah formal, mulai TK sampai perguruan tinggi. Tetapi, mereka sama sekali tidak melihat pelajarannya itu seperti apa. Padahal, ujiannya hanya seperti berapakah rukun shalat? Kalau jawaban angkanya benar, lulus begitu saja, entah soal paham makna shalat atau tidak, tidak menjadi masalah. Jadi, daging semua. Sekarang ini, substansial/ruh itu sudah semakin jauh, karena kita sudah ke daging dan daging. Jadi, kalau kita ingin mengembangkan gerakan anti korupsi, kita tidak boleh terjebak pada gerakan anti korupsi yang sifatnya ‘daging’nya saja. Sejak awal, kita juga harus mulai melihat dari akarnya, hingga menghentikan korupsi waktu dan lain sebagainya.

Melihat kondisi yang sudah carut marut demikian, seringkali karenanya saya menaruh harapan pada yang muda. Memang, harapan saya tinggal anak-anak muda dan kyai-kyai yang muda juga. Kenapa demikian? Karena, seperti yang sudah saya sebut di atas, banyak yang tua-tua itu, selam 30 tahun ini dididik dan terdidik dengan kecintaan dunia yang mungkin sebagian besar juga mengambil keteladanan Pak Harto. Kita ini sudah jauh dari nilai-nilai kita sendiri. Bagaimana kita mau melawan kebusukan-kebusukan dan semua yang korup, kalau kita sendiri tidak tahu bahwa kita ini busuk atau tidak? Jadi, harapan memang pada yang muda. Karena, yang muda-muda ini relatif belum tercemari model pendidikan hubb al dunya itu dan masih dapat menjaga diri mereka. Merekalah kini memang yang mengerti ‘aturan’ itu, juga yang sebenarnya paham al Quran, seperti telah saya katakan tadi. Selain modal sikap ‘tidak serba dunia’ ini, penting pula mereka yang muda ini paham juga masalahnya, asal-usul korupsi itu apa, dan kalau kita mau melawan dengan model seperti apa.

Dari kalangan NU kultural telah muncul gagasan, bahwa Bahtsul Masail pun bisa kita jadikan sarana untuk berjuang mengingatkan atau (bahkan) mem-pressure orang. Malah Musyawarah Nasional Ulama NU sendiri telah mengeluarkan suatu keputusan mengenai koruptor mati tidak dishalati, yang bisa menjadi awalan sanksi sosial yang berani untuk membangun gerakan anti korupsi dari masyarakat atau rakyat yang selama ini paling banyak dirugikan tindak korupsi tersebut. Nah, di sini kita masih punya optimisme, bahwa mereka dapat mengurangi dan mencegah kecarutmarutan, termasuk yang sangat merusak bangsa seperti korupsi ini.

Saya tadi sudah menyampaikan, sumber korupsi yang paling utama adalah dunia ini. Kita semua, dari kyai-kyai pendahulu kita diajarkan bahwa dunia ini hanya wasilah, bukan ghayah. Kemudian dari pemahaman ini tergantung kitanya sendiri. Mereka yang di pemerintahan siap menerima masukan, kalau kita tidak siap menyampaikan apa-apa, ya tetap saja seperti itu. Sekarang ini kesempatan, NU/kyai sedang jadi primadona lagi di Indonesia ini. Tapi sekali lagi, karena kita juga murid-murid perdagingan itu semua, kyai-kyai sekarang ini mikirnya calon presiden, pilkada dan yang sebangsa itu. Dukungan ini, itu, gitu thok. Itukan sama dengan orang bilang Allahu Akbar di jalan-jalan yang hanya gembar gembor daging.

Nah, saya mengharapkan supaya kyai-kyai muda ini tidak menduplikat model sebagian kyai-kyai lama yang sudah merasa puas dengan apa yang disebut yang simbolik tadi. Kita mempunyai tanggung jawab yang besar, bukan hanya memandaikan masyarakat, tetapi juga menyejahterakan, membikin maslahah bagi masyarakat. Kalau masyarakat ini kacau, karena adanya mereka yang korup-korup, bagaimana kita menolong masyarakat itu, dengan memperbaiki yang korup-korup. Dengan kata yang lebih singkat, kita harus menyadari bahwa tanggung jawab kita itu seberapa besar. Apakah tanggung jawab kyai itu hanya di pesantrer saja ataukah ingin lebih dari itu? Sekarang yang diwarisi itu siapa? Kalau yang diwarisi itu Nabi Muhammad SAW, kita tahu, selain dia nabi juga rasul. Jadi yang diwariskan adalah nubuwwah dan risalah. Bahkan, kyai-kyai telah melaksanakan yang nubuwwah itu, tapi yang risalah sudah diwarisi atau belum? Istilah saya, ada kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Ternyata yang sosial itu sudah jarang disentuh. Kita perlu memikirkan bagaimana keagamaan kita hingga persoalan sosial ini dapat dimengerti akar, daging dan juga kulitnya. Sementara ini, di kalangan NU cultural mulai berkembang, misalnya bagaimana bisa ada fiqh tembakau, dulu ada fiqh tanah, nanti ada fiqh tebu. Tujuan berbagai macam fiqh itu, bukan hanya membahas masalahnya, tetapi ada ikut-ikutannya, ada tindak lanjut dan rekomendasi dari Bahtsul Masail itu. Ini tidak bisa dilakukan, kecuali kita memahami sejauh mana tanggung jawab kita yang sebenarnya. Di sini, kata orang Jakarta, kita perlu paradigma keagamaan yang bisa membangun pemberdayaan rakyat yang terpinggirkan. Atau istilah tadi, selain kesalehan ritual, kita perlu sekali membangun kesalehan sosial.

Jadi, saya menaruh harapan bahwa reformasi di Indonesia (termasuk terhadap korupsi yang besar) tidak bisa dilakukan, kalau tidak ada reformasi keberagamaan. Reformasi keberagamaan juga tidak bisa diharapkan, kecuali melalui kyai-kyai dan santri-santri yang masih segar dan jernih, yang belum terkontaminasi budaya berorientasi dunia itu. Tapi, kita juga perlu peta perhatian kyai itu apa saja dan apa yang kita bisa lakukan. Ini semua harus kita pahami. Kalau tidak kita akan menambah jumlah orang yang antikorupsi, tetapi tidak menyelesaikan apa-apa. Anti-anti tok! Sekali lagi, saya mengharapkan kaum muda untuk betul-betul peduli secara menyeluruh terhadap persoalan-persoalan yang kita hadapi, terutama terkait korupsi. Kemudian, keluarkan perbendaharaan Anda mengenai pedoman-pedoman peraturan keagamaan yang sudah Anda kuasai, bagaimana kita menyiasati itu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sudah Anda ketahui itu. Dengan demikian, Anda akan memberikan sumbangan yang luar biasa dan tidak hanya ilmiah saja, tetapi (lebih dari itu) juga sebagai sumbangsih pengkhidmatan kepada masyarakat.

READ MORE - Hubbud-dunya adalah Akar Korupsi

Islam Ngotot Muncul dari Kota

Budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyatakan, Islam yang ngotot atau Islam pethenthengan, itu muncul dari kota, bukan dari desa. Karena lumrahnya, orang-orang desalah yang masih setia merawat Islam yang toleran, tengah-tengah dan yang tidak ngotot. “Ini yang bikin saya bangga dengan desa. Ini menurut pengamatan saya yang agak lama. Mungkin saya salah,” katanya tawadhu’.

Ia juga menyatakan, buku-buku karya Abu al-A’la Maududi, Sayyid Qutub, Hasan al-Banna dan sebagainya, kebanyakan diterjemahkan orang kota. “Saya ndak melihat dari kalangan ndeso atau pesantren yang menerjemahkan buku-buku ini,” ujarnya.

Dan memang, diakui Gus Mus, kini semangat keberagamaan yang berlebihan justru muncul dari kota. Semisal Kota Jakarta, Bandung, Solo dan sebagainya. Karena demikian menggebu-gebunya dalam beragama, katanya, akhirnya timbul Islam yang ngotot atau pethenthengan itu. “Kalau nggak begini, nggak sesuai mereka, pokoknya jahannam,” katanya.

Gus Mus menyayangkan semangat orang kota ini, karena acapkali kengototan itu tak dibarengi dengan ketekunan belajar agama. Akhirnya, imbuhnya, terjadi ketidakseimbangan antara semangat keberagamaan dengan pemahamannya terhadap ajaran agama. “Repotnya, lalu mereka merasa seolah-olah mendapat mandat dari Gusti Allah untuk mengatur orang di dunia ini,” kritiknya.

Gus Mus juga mengritik perilaku anarkis kelompok Islam tertentu atas kelompok lain yang berbeda, dengan alasan supaya mereka dicintai Allah SWT. Mereka ini, kata Gus Mus, sesungguhnya belum mengenal Allah SWT, karena Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang atas hamba-hamba-Nya.

“Orang yang tidak kenal Gusti Allah tapi ingin menyenangkan-Nya, salah-salah malah mendapat marah-Nya. Jadi tidak logis ada orang mau menyenangkan Allah SWT, tapi tidak mengenal-Nya,” tegas Gus Mus.

Inilah sejatinya, kata Gus Mus, kelompok Islam yang ngaji agamanya tidak tutug alias tidak tuntas. Mereka baru belajar bab al-ghadhab (pasal marah), lantas berhenti mengaji. Dan mereka mengira ajaran Islam hanya sependek itu. Efeknya, ke mana-mana bawaan mereka marah melulu. Padahal, masih ada bab selanjutnya tentang tawadhu’, sabar, dan seterusnya. Mereka inilah yang menjadi masalah, karena siapapun yang berbeda pasti akan disalahkan dan disesatkan.

“Dan sikap pethenthengan ini yang menjadi awal tidak adanya toleransi. Karena pethenthengan juga, kadang orang yang beragama melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya secara tidak sadar. Tapi kalau dasarnya cinta, seperti kaum sufi, itu nggak ada pethenthengan,” ujarnya.

Untuk itu, Gus Mus berpesan, hendaknya kaum muslim belajar terus tanpa henti. Dan berfikirlah segila mungkin, toh ayat al-Qur’an yang menyuruh berfikir itu sama banyaknya dengan ayat al-Qur’an yang menyuruh untuk berzikir. “Jadi, jangan pasang plang dulu ‘saya wakil Pengeran’. Tapi pelajari dulu yang dalam. Kalau tidak, alih-alih dicintai Allah SWT, tapi malah dibenci-Nya,” katanya mengingatkan.

Penulis buku Membuka Pintu Langit (Kompas: 2007) ini lantas mengritik perilaku kelompok Islam tertentu yang gemar merusak properti milik Jemaah Ahmadiyah atau memukuli jemaahnya, karena menganggap mereka sesat. Gus Mus menamsilkan, ada orang yang hendak pergi ke Jakarta lalu berhenti di Rembang Jawa Tengah. Ia lantas berjalan terus ke arah Surabaya. “Mau ke mana?” tanya Gus Mus. “Mau ke Jakarta!” jawab orang itu.

“Saya lalu bilang, mau ke Jakarta kok ke timur? Berarti kamu ini salah alias sesat. Ya, saya tempeleng saja. Apa begini caranya? Cara ini kan nggak bener dan lucu,” kata Gus Mus heran.

Ini terjadi, kata Gus Mus, tak lain karena orang belajar ajaran agamanya tidak tutug atau tuntas. “Baru sarjana muda leren (selesai), lalu merasa sudah S3,” sindirnya.[nhm]
READ MORE - Islam Ngotot Muncul dari Kota

Sunday, August 02, 2009

Check it Out

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

…barangsiapa beramal dengan suatu amalan (ibadah) yang tidak ada atasnya perkara kami maka dia itu tertolak…(HR Bukhari)

READ MORE - Check it Out

Wednesday, July 29, 2009

Wirid Harian untuk Pemula dan Pecinta (Mubtadi dan Muhib)

Syahadat (3 kali):

asy-hadu an lā ilāha ill-Allāh wa asy-hadu anna Muħammadan ‘abduhū wa rasūluh

Astaghfirullaah (70 kali)

Surat al-Fatihah (1 kali, dengan niat memperoleh berkah dari tajali surat ini ketika pertama kali diturunkan di Mekah)

Ayat Aamanar-Rasuul [QS 2:285-286]

Surat al-Insyirah [QS 94 :1-8], (7 kali)

Surat al-Ikhlash [QS 112 :1-4] (11 kali)

Surat al-Falaq [QS 113 :1-5] (1 kali)

Surat an-Naas [QS 114 :1-6] (1 kali)

Laa ilaaha illallaah (9 kali)

Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW (1 kali)

Selawat (10 kali):

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa salim

Ihda (menghadiahkan pahala dari bacaan di atas kepada Nabi SAW dan para Syekh Tarekat Naqsybandi):

Ilaa Hadhrati ‘Nabiyy SAW wa-aalihii wa shahbihil kiraam, wa ilaa arwaahi ikhwanihil minal anbiyaa-i wal mursaliin wa khudamaa-i sara-‘ihim wa ilaa arwaahil a-immatil arba’a wa ilaa arwaahi Masyayikhinaa fith thariiqatin ‘Naqsybandiyyatil Aliyyah, khassatan ilaa ruuhi imamith thariqah wa Ghawtsil khaliqah Khwajaa Baha-uddin Naqsyband Muhammadinil ’Uwaysiiyil Bukhaari, wa hadhrati Mawlana Sulthaanil awliya Syaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani, wa Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Al Haqqani, wa ilaa saa-iris-sadaatina was shiddiqiyuun…

Ihda di atas ditutup dengan membaca Surat al-Fatihah (dengan niat memperoleh berkah dari tajali surat ini ketika diturunkan untuk kedua kalinya di kota Madinah)

Zikir:

Allah, Allah… (1500 kali)

Selawat (100 kali, kecuali Senin, Kamis dan Jumat: 300 kali):

Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

1 juz Al-Qur’an atau Surat Ikhlash (100 kali)

1 bagian Kitab Dala’il Al-Khayrat atau Selawat (100 kali)

READ MORE - Wirid Harian untuk Pemula dan Pecinta (Mubtadi dan Muhib)

Wirid Harian untuk Tingkat Persiapan (Musta’id)

Syahadat (3 kali):

asy-hadu an lā ilāha ill-Allāh wa asy-hadu anna Muħammadan ‘abduhū wa rasūluh

Astaghfirullaah (70 kali)

Surat al-Fatihah (1 kali, dengan niat memperoleh berkah dari tajali surat ini ketika pertama kali diturunkan di Mekah)

Ayat Aamanar-Rasuul [QS 2:285-286]

Surat al-Insyirah [QS 94 :1-8], (7 kali)

Surat al-Ikhlash [QS 112 :1-4] (11 kali)

Surat al-Falaq [QS 113 :1-5] (1 kali)

Surat an-Naas [QS 114 :1-6] (1 kali)

Laa ilaaha illallaah (9 kali)

Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW (1 kali)

Selawat (10 kali):

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa salim

Ihda (menghadiahkan pahala dari bacaan di atas kepada Nabi SAW dan para Syekh Tarekat Naqsybandi):

Ilaa Hadhrati ‘Nabiyy SAW wa-aalihii wa shahbihil kiraam, wa ilaa arwaahi ikhwanihil minal anbiyaa-i wal mursaliin wa khudamaa-i sara-‘ihim wa ilaa arwaahil a-immatil arba’a wa ilaa arwaahi Masyayikhinaa fith thariiqatin ‘Naqsybandiyyatil Aliyyah, khassatan ilaa ruuhi imamith thariqah wa Ghawtsil khaliqah Khwajaa Baha-uddin Naqsyband Muhammadinil ’Uwaysiiyil Bukhaari, wa hadhrati Mawlana Sulthaanil awliya Syaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani, wa Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Al Haqqani, wa ilaa saa-iris-sadaatina was shiddiqiyuun…

Ihda di atas ditutup dengan membaca Surat al-Fatihah (dengan niat memperoleh berkah dari tajali surat ini ketika diturunkan untuk kedua kalinya di kota Madinah)

Zikir:

Allah, Allah… (2500 kali dengan suara dinyaringkan/zahar), dan

Allah, Allah… (2500 kali dalam hati, sambil bertafakkur/meditasi)

Selawat (300 kali, kecuali Senin, Kamis dan Jumat: 500 kali):

Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

1 juz Al-Qur’an atau Surat Ikhlash (100 kali)

1 bagian Kitab Dala’il Al-Khayrat atau Selawat (100 kali)

READ MORE - Wirid Harian untuk Tingkat Persiapan (Musta’id)

Wirid Harian untuk Tingkat Mapan (Penuh Kesungguhan, Ahlul ‘Aziim)

Syahadat (3 kali):

asy-hadu an lā ilāha ill-Allāh wa asy-hadu anna Muħammadan ‘abduhū wa rasūluh

Astaghfirullaah (70 kali)

Surat al-Fatihah (1 kali, dengan niat memperoleh berkah dari tajali surat ini ketika pertama kali diturunkan di Mekah)

Ayat Aamanar-Rasuul [QS 2:285-286]

Surat al-Insyirah [QS 94 :1-8], (7 kali)

Surat al-Ikhlash [QS 112 :1-4] (11 kali)

Surat al-Falaq [QS 113 :1-5] (1 kali)

Surat an-Naas [QS 114 :1-6] (1 kali)

Laa ilaaha illallaah (9 kali)

Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullah SAW (1 kali)

Selawat (10 kali):

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa salim

kemudian,

Shalli yaa Rabbii wa sallim ‘alaa jamii’il anbiyaa-i wal mursaliin, wa aali kullin ajma’iin, walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

‘Alaa asyrafil ‘aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat

‘Alaa afdhalil ‘aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat

‘Alaa akmalil ‘aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat

Sayyid ash-shalawat:

Shalaawaatullaahi ta’aalaa wa malaa-ikatihii wa anbiyaa-ihii wa Rusulihii, wa jamii’i khalkihii ‘alaa Muhammadin wa alaa aali Muhammad, alayhii wa ‘alayhimus salaam wa rahmatullaahi ta’aalaa wa barakaatuh, wa radhiallaahu tabaaraka wa ta’aalaa ‘an sadaatina ash-haabi Rasuulillaahi ajma’iin. Wa anit taabi’iina bihim bi ihsaan, wa ‘anil a-immatil mujtahidiinal maadhiin wa ‘anil ulamaa-il muttaqiin, wa ‘anil awliyaa wash shaalihin, wa an masyaayikhina fith thariqatin Naqshbandiyyatil ‘aliyyah. Qaddasallaahu ta’aalaa arwaahahumuz zakiiyah, wanawwarallaahu ta’aalaa adhrihatahumul mubaarakah, wa a’aadallaahu ta’aalaa ‘alaynaa min barakaatihim wa fuyuudhaatihim daa’iman walhamdullilaahi rabbil ‘aalamiin, al-Faatihah

Ihda (menghadiahkan pahala dari bacaan di atas kepada Nabi SAW dan para Syekh Tarekat Naqsybandi):

Ilaa Hadhrati ‘Nabiyy SAW wa-aalihii wa shahbihil kiraam, wa ilaa arwaahi ikhwanihil minal anbiyaa-i wal mursaliin wa khudamaa-i sara-‘ihim wa ilaa arwaahil a-immatil arba’a wa ilaa arwaahi Masyayikhinaa fith thariiqatin ‘Naqsybandiyyatil Aliyyah, khassatan ilaa ruuhi imamith thariqah wa Ghawtsil khaliqah Khwajaa Baha-uddin Naqsyband Muhammadinil ’Uwaysiiyil Bukhaari, wa hadhrati Mawlana Sulthaanil awliya Syaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani, wa Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Al Haqqani, wa ilaa saa-iris-sadaatina was shiddiqiyuun…

Ihda di atas ditutup dengan membaca Surat al-Fatihah (dengan niat memperoleh berkah dari tajali surat ini ketika diturunkan untuk kedua kalinya di kota Madinah)

Allahu Allahu Allahu HAQQ (3 kali, sambil membayangkan diri kita berada di antara Tangan Allah SWT)

Zikir:

Allah, Allah… (5000 kali dengan suara dinyaringkan/zahar), dan

Allah, Allah… (5000 kali dalam hati, sambil bertafakkur/meditasi)

Selawat (1000 kali, kecuali Senin, Kamis dan Jumat: 2000 kali):

Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

1 juz Al-Qur’an atau Surat Ikhlash (100 kali)

1 bagian Kitab Dala’il Al-Khayrat atau Selawat (100 kali)
READ MORE - Wirid Harian untuk Tingkat Mapan (Penuh Kesungguhan, Ahlul ‘Aziim)

Penjelasan mengenai Wirid atau Amalan Harian

Sumber: Naqshbandi Guidebook of Daily Practices and Devotions

Oleh Syekh Hisyam Kabbani QS

Surat al-Faatihah

Grandsyekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata, “Bila seseorang membaca al-Faatihah, ia tidak akan meninggalkan dunia ini tanpa memperoleh Kenikmatan Ilahiah yang tersembunyi di balik arti surat al-Faatihah yang membuatnya bisa mencapai keadaan pasrah kepada Allah SWT. Berkah yang Allah SWT berikan bersama surat al-Faatihah sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak akan berhenti, dan akan berlangsung selamanya, dengan orang yang membaca surat al-Faatihah. Hanya Allah SWT dan Rasulullah SAW yang mengetahui banyaknya berkah yang terdapat dalam surat al-Faatihah. Siapa pun yang membaca surat ini dengan niat untuk mendapatkan tajalinya, ia akan mendapat maqam yang tinggi dan derajat yang baik. Sedangkan bagi yang membacanya tanpa niat seperti itu, ia hanya mendapat Kenikmatan Ilahiah yang umum. Surat ini memiliki maqam yang tidak terhitung dan tidak terbatas dalam pandangan Allah SWT.

Ayat Amana-r-Rasul [QS 2:285-286]

Siapa pun yang membaca ayat ini, akan mendapat derajat yang tinggi dan maqam yang baik. Ia akan mendapat keselamatan dari al-Aman (Yang Maha Memberi Keamanan), dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat. Ia akan memasuki Lingkaran Keamanan dalam Hadirat Ilahi Yang Maha Tinggi dan Maha Perkasa, dan ia akan mencapai semua maqam dalam Tarekat Naqsybandi yang mulia. Ia akan menjadi pewaris Rahasia Rasulullah SAW dan para awliya dan akan sampai pada maqam Bayazid al-Bistami QS, Imam tarekat, yang berkata, “Aku adalah Kebenaran (al-Haqq)” Ini merupakan tajali (manifestasi) yang luar biasa yang dimiliki oleh ayat ini, dan juga ayat-ayat yang lain. Grandsyekh Khalid al-Baghdadi QS, salah satu Imam tarekat ini, menerima Panorama Spiritual dan Rahasia dari ayat ini, yang dengannya Allah SWT menjadikan beliau seorang yang istimewa di masanya.

Surat al-Insyirah [QS 94]

Pada setiap huruf dan masing-masing ayat terdapat tajali yang berbeda dengan ayat-ayat pada surat lainnya. Siapa pun yang membaca sebuah ayat atau satu huruf al-Qur’an, ia akan mendapat Kasih Ilahiah yang khusus dan bersifat khas terhadap ayat atau huruf tersebut.

Jika seseorang membaca surat ini, ia akan menerima Kasih Ilahiah, tajali dan kebaikan. Siapa pun yang mengharapkan kebaikan tersebut, ia harus menjaga awrad ini setiap hari bersama dengan kewajiban lainnya. Barulah ia akan mendapat Kehidupan yang Sejati dan Kehidupan yang Abadi.

Maqam dan Kasih Ilahiah yang terus-menerus ini adalah satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan, jadi satu kekurangan dalam awrad secara otomatis akan mengurangi banyaknya Kasih Ilahiah yang akan diterima. Sebagai contoh, jika kita ingin mencuci tangan, kita bisa menunggu di depan keran sampai air keluar. Tetapi jika pipanya tidak tersambung dengan baik, sehingga air tidak sampai ke keran, berapa pun lamanya kita menunggu, air tidak akan pernah keluar. Jadi kita harus menjaga jangan sampai terjadi kekurangan dalam zikir kita sampai kita mendapat semua tajali dan Kasih Ilahiah.

Surat al-Ikhlash [Qs 112]

Siapa pun yang membacakan surat ini dengan sungguh-sungguh akan mendapat tajali dari dua Nama Allah SWT, al-Ahad (Yang Maha Esa) dan as-Shamad (Yang Maha Dibutuhkan). Siapa pun yang membacanya akan mendapat sebagian dari tajali tersebut.

Surat al-Falaq [Qs 113] dan an-Naas [Qs 114]

Realitas dari Rahasia dan Kesempurnaan yang menyeluruh (kamal) dari Kebesaran Nama-Nama Allah SWT dihubungkan dengan kedua surat ini. Karena keduanya menjadi surat penutup al-Qur’an, keduanya terhubung dengan seluruh tajali dan Kasih Ilahiah. Melalui awrad ini, para guru Tarekat Naqsybandi menjadi Samudra Pengetahuan dan seorang yang ahli. Grandsyekh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata, “Kalian sekarang telah mencapai awalnya, di mana setiap ayat, huruf dan surat dalam al-Qur’an mempunyai tajalinya masing-masing, yang tidak bertumpang-tindih satu sama lain.” Untuk itu Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah meninggalkan tiga hal untuk umatku, kematian yang akan membuat mereka takut, mimpi yang benar yang akan membawa berita gembira bagi mereka, dan al-Qur’an yang akan menjadi pedoman bagi mereka.” Melalui al-Qur’an Allah SWT akan membuka pintu Kasih Ilahiah pada saat-saat terakhir, sebagaimana ketika al-Qur’an diturunkan pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, pada masa khalifah dan di masa para awliya.

Awrad untuk tiga tingkatan murid ini harus dilakukan sekali dalam 24 jam bersama dengan kewajiban lainnya sesuai dengan syariah Rasulullah SAW. Semua yang dibawa oleh beliau dapat ditemukan dalam awrad ini. Ini adalah cara bagi para hamba untuk mencapai kunci kedekatan dengan Allah SWT. Dengan awrad tersebut para rasul, anbiya dan awliya mencapai Sang Penciptanya dan melalui awrad ini pula kita dapat mencapai seluruh maqam dalam tarekat Naqsybandi yang mulia.

Para guru tarekat Naqsybandi mengatakan bahwa siapa pun yang menganggap dirinya tergabung dalam salah satu dari 40 tarekat atau menjadi pengikut tarekat Naqsybandi yang mulia tetapi tidak pernah melakukan khalwat walaupun sekali seumur hidup, maka seharusnya orang itu malu untuk berhubungan dengan murid-murid yang lain.

Grandsyekh Syekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata, “Siapa pun yang hidup di akhir zaman dan berharap untuk mendapat posisi yang tinggi dan terhormat serta ingin mendapat apa yang didapatkan oleh orang yang berkhalwat dan melakukan latihan-latihan spiritual (zikir), maka ia harus mengerjakan awrad ini. Dengan awrad ini, berarti kita telah meletakkan fondasi untuk maqam yang lebih tinggi yang akan dibangun di atasnya. Seorang murid harus menyadari bahwa jika ia gagal mencapai posisi yang tinggi dan terhormat di dunia ini karena kurang berusaha, maka seharusnya ia tidak terpisah dari dunia ini, tetapi Syekh membuat ia dapat mencapainya dan mendapatkan maqamnya baik selama ia hidup atau pada saat 7 naPas terakhir menjelang kematiannya.”

“Jika seorang melakukan awrad (zikir) ini tetapi kemudian melakukan tindakan yang tidak pantas, berarti ia bagaikan membangun rumah di tepi karang yang terjal, kemudian rumahnya itu runtuh sehingga hancur berantakan. Jadi kita harus selalu waspada dan awas terhadap segala tindakan kita, menimbangnya dengan cermat apakah tindakan tersebut halal atau haram, atau apakah Allah SWT akan marah terhadap tindakan tersebut atau tidak. Kita juga harus mengetahui bahwa segala hal yang haram akan melemahkan fondasi kita. Oleh karena itu kita harus berpikir sebelum melakukan sesuatu. Rasulullah SAW bersabda, “Satu jam berpikir (kontemplasi) lebih baik dari 70 tahun beribadah.” Kita harus bisa melakukan segala aktivitas kita dengan cara yang benar, tanpa ada intervensi dari sesuatu yang diharamkan.”

“Dalam kehidupan ini, Allah SWT telah membagi hari ke dalam 3 bagian, 8 jam untuk beribadah, 8 jam untuk bekerja, dan 8 jam untuk tidur. Seseorang yang tidak menerima dan mengikuti pembagian energi ini akan menjadi contoh yang tepat bagi hadis yang berbunyi, ‘Barang siapa yang kehidupannya tidak teratur, ia juga akan mengalami kekacauan di neraka.’ Siapa yang hanya mengikuti kemauannya tidak akan mencapai kemajuan dan siapa yang ingin mencapai maqam yang tinggi dan terhormat sebagaimana yang berusaha didapatkan oleh generasi sebelumnya dengan berkhalwat, maka ia harus mengingat Allah SWT setiap saat.”

Grandsyekh melanjutkan, “Mereka yang membaca awrad secara rutin akan mendapat air dari Kehidupan yang Sejati, yang dengan air itu ia akan melakukan pembersihan diri. Ia akan mandi di dalamnya dan akan meminumnya, dengan jalan itu ia akan mencapai tujuannya. Ada orang yang mengaku telah mengikuti tarekat selama 30 tahun, tetapi ia belum bisa melihat sesuatu dan tidak mendapat sesuatu yang istimewa. Jawaban bagi orang itu adalah melihat kembali ke belakang, berapa banyak kekurangan yang telah dilakukannya? Pada saat kalian mengetahui kekurangan tersebut, segeralah hindari hal tersebut, dengan demikian kalian akan mencapai Allah SWT. Ketika murid meninggalkan tugas harian (wazifa) yang diperintahkan oleh Syekhnya, maka ia akan terhambat dalam mencapai kemajuan dan ia tidak akan mampu mencapai satu maqam apapun yang telah dicapai sebelumnya. Tidak ada nabi yang mencapai kenabiannya atau tidak ada seorang wali pun yang mencapai kewaliannya, dan tidak ada seorang mukmin yang mencapai tahapan keimanan tanpa menggunakan waktunya untuk melakukan zikir harian.”

READ MORE - Penjelasan mengenai Wirid atau Amalan Harian

Istikharah

Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin


Jika kalian ragu-ragu mengenai sesuatu, apakah hal itu baik atau tidak, apakah sesuai dengan Kehendak Allah SWT atau tidak, kalian dapat memohon petunjuk-Nya. Setiap saat kalian dapat melakukannya, caranya adalah sebagai berikut:

Mandilah dengan air panas atau dingin. Lakukan dengan serius. Bersikaplah serius terhadap masa depan kalian. Lakukan di tempat yang sunyi, ucapkan salam pada Tuhanmu, lalu duduklah dan katakan, ”Ya Tuhanku, aku berniat akan sesuatu hal dan aku memohon (petunjuk) agar kehendakku sesuai Kehendak-Mu. Berilah aku tanda-tanda yang benar untuk maksud ini!” Maka kalian akan mendapatkan tanda merah atau hijau. Tidak mungkin melakukan hal ini tanpa mendapatkan jawabannya.

Itu adalah suatu bentuk konsultasi (istikharah) dan kini Saya memberi izin untuk melakukannya. Setiap orang yang ingin mengetahui, apakah tindakan yang akan dilakukannya sesuai dengan Kehendak Tuhannya memiliki kebebasan untuk memohon bimbingan.

Tetapi kalian tidak boleh meminta sesuatu yang sudah jelas, dan arahnya pun sudah ditunjukkan. Hal itu seperti saat kalian menemui jalan buntu, tetapi kalian masih bertanya apa masih bisa terus. Kalian harus menerimanya apa pun itu, dan tidak perlu untuk menanyakan hal itu. Baik sekali melakukan latihan ini sebelum tidur. Lakukan salat dua rakaat, minta, lalu pergi tidur tanpa bicara dengan orang lain.

Doa Istikharah (Riyadh ash-Shaalihiin):

Allaahumma innii astakhiiruka bi `ilmika wa astaqdiruka bi qudratika wa as-aluka min fadhlikal `azhiim/fa innaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta`lamu wa laa a`lamu wa Anta `allaamul ghuyuub/Allaahumma in kunta ta`lamu anna haadzaal-amra khayrun lii fii diinii wa ma`aasyii wa `aaqibati amrii. Awqaala fii ‘aajili amrii wa ‘aajilihi faqdurhulii wa yassirhulii tsumma baarik lii fiihi wa-in kunta ta`lamu anna haadzaal amra syarran lii fii diini wa ma`aasyi wa `aaqibati amrii wa aajilihi fa ashrifhu `annii wa ashrifnii anhu waqdurlii al-khayra haytsukaana tsumma radh-dhanii bihi

Ya Allah, aku mohon pada-Mu untuk menunjukkan yang terbaik menurut Pengetahuan-Mu, memohon kemampuan melalui Kekuasaan-Mu, dan memohon sebagian dari Karunia-Mu Yang Agung. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sementara aku tidak berdaya, Engkau Maha Mengetahui, sementara aku tidak. Dan Engkau Maha Mengetahui atas segala perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini lebih baik bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan hasil akhirku—atau urusan dunia dan akhiratku—maka berilah aku kemampuan untuk melaksanakannya dan mudahkanlah ia bagiku. Dan jika Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku, bagi agamaku, kehidupanku, dan hasil akhirku—atau urusan dunia dan akhiratku, maka jauhkanlah ia dariku dan tetapkanlah perkara yang baik bagiku di mana pun ia berada, dan ridailah ia bagiku.

READ MORE - Istikharah

AisatuZahra

READ MORE - AisatuZahra

Wednesday, July 15, 2009

Berserah

"Jika Harus Mengatur, Aturlah Untuk Tidak Ikut Mengatur"
" Janganlah sekali-kali memilih dalam urusanmu. Pilihlah untuk tidak memilih. Larilah dari pilihanmu dan dari segala sesuatu Menuju Allah Subhanahuwata Alaa. DIA-lah yang menciptakan sekaligus memilihnya"
--- Abu Al Hasan Az Syadili ---
READ MORE - Berserah