Saturday, October 24, 2009

OMAR KHAYYAM

Ketaatan sejati adalah demi ketaatan itu sendiri, bukan karena mengharap surga atau takut pada neraka.

(Rabi'ah al-Adawiyah)



Syair-syair (kuatrin) Omar, putra Ibrahim sang Pembuat Kemah, telah diterjemahkan hampir dalam setiap bahasa dunia. Sama sekali tidak dapat dipercaya apabila dalam kehidupannya ia dianggap sebagai penganut aliran Assassin (sekelompok pembunuh bermotifkan politik), teman Nizham sang Wazir Agung, sebagai anggota istana dan penggemar makanan serta minuman, oleh sebab berbagai terjemahan yang keliru. Sudah menjadi anggapan umum bahwa Rubaiyat terjemahan FitzGerald lebih merepresentasikan penyair Irlandia dibandingkan Persia. Namun ini sebenarnya merupakan penilaian dangkal, karena Omar sebenarnya tidak merepresentasikan dirinya sendiri, namun sebuah madzhab filosofi Sufi. Kita tidak hanya perlu mengetahui apa yang sebenarnya dikatakan Omar, namun kita juga perlu mengetahui apa maksud perkataannya.

Sebenarnya ada suatu hal menarik lebih lanjut bahwa dalam pembauran berbagai gagasan dari beberapa penyair Sufi dan mengangkat nama Omar, FitzGerald tanpa disadari telah menggaris bawahi pengaruh Sufi dalam kesusastraan Inggris.

Marilah kita mulai mengamati terjemahan FitzGerald. Dalam syair (kuatrin) 55, ia memaksakan bahwa Omar secara khusus menentang Para Sufi:

Buah Anggur, mengandung sebuah Serat;
Laksana urat melekat di Tubuhku -- biarlah sang Sufi mencela;
Tentang Logam Dasarku yang mungkin menyimpan sebuah Kunci, Kunci pembuka Pintu yang diratapnya dari luar.

Ini mengandung arti serta memberi kesan bahwa Omar menentang sang Sufi. Dan bahwa apa yang dicari sang Sufi dapat ditemukan dalam metode Omar, bukan (penemuan) dirinya sendiri.

Bagi pengamat biasa mana pun, puisi ini jelas menunjukkan ketidakmungkinan bahwa Omar adalah seorang Sufi.

Para Sufi percaya bahwa dalam diri manusia ada suatu unsur yang disemangati cinta, yang membukakan makna pencapaian realitas sejati dan disebut makna mistikal.

Apabila kita kembali pada puisi orisinal dari terjemahan syair (kuatrin) 55 ini untuk mengaman tentang pencelaan Sufi atau sebaliknya, maka maksudnya, dengan menterjemahkannya dari bahasa Persia, adalah:

Ketika Sebab Azali menentukan wujudku
Aku dianugerahi ajaran utama tentang Cinta.
Dan terbentuklah belahan hatiku
Kunci Perbendaharaan Mutiara dari makna mistikal.

Di sini tidak ada kata-kata Sufi, pintu, meratap, mencela. Namun kata-kata yang digunakan adalah istilah-istilah teknis Sufi.

Meskipun telah diakui secara umum bahwa Khayyam adalah seorang penyair yang tidak mendapat penghargaan di negerinya sendiri sampai diperkenalkan kembali melalui apresiasi terjemahan FitzGerald di Barat, ini pun tidak sepenuhnya akurat. Adalah benar bahwa Khayyam tidak memperoleh penghargaan seuniversal Sa'di, Hafizh, Rumi dan penyair Sufi lainnya. Pekerjaan mengumpulkan syair-syair yang disampaikan atas namanya memang berbeda. Masih diragukan bahwa orang meneliti apakah ada di antara para Sufi yang memperhatikan Omar. Harus diakui, meskipun telah ada penyelidikan, hanya sebagian kecil di antara mereka yang telah peduli untuk membahas masalah ini sebagai pengamat.

Tugas berat dan seksama telah dicurahkan untuk meneliti orisinalitas dan kemurnian syair-syair dari berbagai koleksi karya Omar. Dari sudut pandang Sufi, karena Omar bukanlah guru dari sebuah madzhab mistik melainkan ia adalah seorang guru mandiri, maka masalah itu kehilangan kaitan. Para peneliti telah menunjukkan minat terhadap kemungkinan pengaruh penyair buta Abu Ali al-Ma'ari atas diri Omar. Di dalam Luzum yang ditulis segenerasi sebelum Khayyam, al-Ma'ari telah mempublikasikan berbagai puisi yang tampaknya mengingatkan pada karya puitis Khayyam.

Al-Ma'ari telah menulis puisi yang senada dengan puisi Umar, demikian sebaliknya, sebagaimana akan dikatakan seorang Sufi, karena mereka berdua menulis dari sudut pandang madzhab yang sama. Khayyam mungkin telah menyitir al-Ma'ari, laksana dua perenang saling meniru ketika mereka berenang bersama, mempelajari baik secara terpisah atau bersama-sama dari sumber yang sama.

Hal ini menimbulkan kebuntuan ketika beberapa pengamat sastra meneliti satu segi karya, sementara pengamat lain (mistik) terlibat dan terpengaruh dalam konteks tertentu.

Khayyam adalah suara sang Sufi dan bagi Sufi, suara itu abadi. Puisi tidak akan terikat begitu saja pada teori pemusatan waktu. Memang benar bahwa Khayyam diperhatikan kembali di Persia karena popularitas terjemahan tersebut, jika kita setuju menafsirkan "Khayyam tidak dikenal di kalangan non-Sufi sampai akhir-akhir ini di Persia. Namun melalui berbagai upaya para sarjana Barat, karyanya telah dikenal luas di luar kalangan Sufi di Persia."

Profesor Cowell yang telah memperkenalkan Omar kepada FitzGerald dan menganggapnya sebagai orang Persia, menemukan kandungan Sufistik dalam karya Omar setelah berbagai diskusinya dengan sarjana-sarjana India asal Persia. Beberapa sarjana menyimpulkan bahwa mereka ini telah menyesatkan si Profesor. Beberapa pakar Barat tidak mengungkapkan kandungan Sufi dalam karya Omar. Sementara Pendeta Dr. T.H. Weir, seorang ahli sastra Arab (Khayyam menulis karyanya dalam bahasa Persia), menulis sebuah buku tentang Omar yang di dalamnya menyatakan dengan sangat jelas persoalan ini. "Yang benar adalah," katanya (dalam Omar Khayyam the Poet), "tidak mungkin seorang (sarjana) membaca enam baris syair Omar tanpa melihat bahwa tidak ada mistisisine di dalamnya, apalagi dalam Burns." Namun ia tidak menjelaskan: apa jenis mistisisme yang diacunya, bagaimana ia mengidentifikasikannya.

FitzGerald sendiri merasa kebingungan terhadap pribadi Omar. Ia kadangkala mengangap Omar sebagai Sufi, namun terkadang bukan. Padahal ia sendiri telah memahami sebagian besar pemikiran Sufi. Heron-Allen, sarjana yang telah menganalisa secara sangat seksama, menunjukkan bahwa bahan-bahan yang oleh banyak orang dianggap hasil racikan FitzGerald, acapkali berasal dari penyair Persia lainnya. Para pengarang Persia ini, yaitu para Sufi: Aththar, Hafizh, Sa'di dan Jami, adalah para penyair yang sejak Chaucer sangat berpengaruh di kalangan penulis Inggris.

Mungkin disengaja atau kebetulan, apabila FitzGerald sebenarnya telah memahami berbagai ajaran Sufi dari naskah-naskah asli bahasa Persia. Ajaran-ajaran ini begitu kuat dalam ingatannya sehingga sangat membantu dalam menyunting Rubaiyat dalam bahasa Inggris, meski kemudian dicampuradukkan dengan Omar. Andaikata FitzGerald mengetahui teknik ajaran tertentu yang diterapkan Omar -- dengan mengikuti suatu garis pemikiran sehingga mengesankan kedangkalannya -- maka ia mungkin menguraikan pengaruh ajaran Omar secara lebih efektif.

FitzGerald juga telah keliru memahami tekanan yang diberikan Omar tentang kondisi Sufi yang mengalami "Kemabukan", sebagaimana terkandung dalam bait berikut ini:

Aku tak bisa hidup tanpa anggur,
Tanpa cangkir penuh dengan anggur,
aku tak mampu membawa tubuhku
Aku hamba sang nnfas yang dikatakan Saki (Pemabuk)
"Minumlah secangkir lagi" -- tapi aku tak bisa.

Bait ini jelas mengacu pada kondisi pencapaian di bawah bimbingan guru Sufi ketika suatu pengalaman ekstase berkembang menjadi suatu persepsi nyata tentang dimensi rahasia di balik kemabukan metaforis itu.

Karya Khayyam versi FitzGerald (bahasa Inggris) tidak pernah diperbaiki lagi karena, agar berbagai gagasan Sufi bisa dikenal generasi secara luas, harus ada kadar harmoni tertentu antara gagasan dan formulasi waktu.

Hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bisa melihat kandungan mistik dalam karya Omar. Ia telah mengesankan Swinburne, Meredith dan banyak orang yang mencari pola pemikiran nonk-onvensional. Namun yang lain merasa bahwa dalam beberapa hal, kandungan mistik itu adalah suatu ancaman bagi konvensi. Seorang pakar teologi ternama, Dr. Hastie, tidak berusaha memahami kedalaman makna mistikal itu dalam karya Omar.

Dalam versi FitzGerald, Dr. Hastie hanya menemukan "sosok jenaka yang bersahaja, refleksi sangat dangkal dan syair-syair gersang serta kontras". FitzGerald sendiri telah mengkaji suatu "segi baru tentang Omar ", tentang kegelisahan "yang menyedihkan, penipuan diri, kultus tidak wajar atas dirinya oleh orang-orang fanatik". "Kultus" ini merupakan "suatu kegilaan retoris dan delusi, kegandrungan dan pemujaan semu".

Apakah pendeta yang terhormat itu merasa terancam oleh orang yang bagaimanapun hanyalah "sosok bijak yang agak gila, berandalan pengecut, pailit dan pembual buta yang suka menggertak?"

Omar bisa jadi kerapkah dipahami di Timur maupun Barat sedemikian rupa. Yang sangat mengkhawatirkan adalah begitu banyak mahasiswa Muslim yang berbahasa Inggris di India terlampau meminati Khayyam dari terjemahan FitzGerald itu. Namun setidaknya seorang teolog Muslim telah mengedarkan suatu peringatan. Dalam The Explanation of Khayyam (Molvi Khanzada, Lahore, 1929), sebuah pamflet yang beredar luas, ia telah berusaha sebisa mungkin membawa masalah itu ke dalam perspektifnya sendiri. Pertama ia membuktikan, dan bukan tanpa alasan, bahwa FitzGerald sebenarnya tidak mengetahui bahasa Persia dengan baik. Kedua, ia menegaskan bahwa Cowell juga tidak tahu bahasa Persia dengan baik (tulisan mereka berdua seperti cakar ayam, seperti tulisan anak kecil). Orang yang ingin mengkaji Khayyam pertama kali seharusnya mempelajari bahasa Persia, bukan bahasa Inggris. Bahkan sebelum mengkaji Khayyam, ia harus mampu memahami dasar-dasar Islam secukupnya sebelum memasuki materi pelik seperti Sufisme. Akhirnya, Khayyam merupakan sebuah istilah generik yang diterapkan para Sufi sebagai suatu metode pengajaran, yang bila dikaji sendiri tanpa mengacu pada kitab-kitab lain dan tanpa bimbingan seorang guru pasti akan menyesatkan.

Khayyam adalah sebuah kultus agung di Inggris. Para pemujanya telah membentuk kelompok-kelompok, menaburi bunga mawar Nisyapur di atas pusara FitzGerald, dan menirukan syair-syairnya. Kultus ini sangat banyak, padahal kita tahu bahwa manuskrip tertua ditulis tiga ratus lima puluh tahun setelah kematian sang pengarang -- hampir seperti kita semua tahu tentang St. John of the Cross berdasarkan sebuah dokumen yang ditulis akhir-akhir ini dan harus mendasarkan pemahaman kita dari dokumen itu serta sebagian kecil dokumen lainnya.

Dari sudut pandang Sufi, puisi Khayyam mempunyai berbagai manfaat, entah dikaji untuk menjelaskan maknanya semata, entah dibacakan dengan syarat-syarat tertentu untuk meningkatkan taraf-taraf kesadaran, entah "mengungkap rahasianya" untuk digunakan sebagai materi kajian Sufi.

Itulah sebagian warisan Sufi, dan sebagaimana telah memainkan peran komprehensif, pemahamannya sendiri merupakan pola pemikiran khas Sufi.

Ada laporan bahwa Khan Jan-Fishan Khan, pemimpin Sufi Hindu-Kush dan guru utama yang agung pada abad kesembilan belas, telah menggunakan syair-syair Omar dalam pengajarannya. Seorang muridnya melaporkan:

Tiga anggota baru datang menemui Khan. Ia menerima mereka dan memerintahkan mereka untuk mempelajari Khayyam dengan tujuan menjajaki tanggapan mereka. Seminggu kemudian mereka datang melaporkan di hari resepsinya. Orang pertama mengatakan bahwa pengaruh syair-syairnya telah mendorongnya untuk berpikir dan memikirkan apa yang belum dipikirkannya sebelumnya. Orang kedua mengatakan bahwa ia pikir Khayyam adalah seorang klenik. Orang ketiga merasa bahwa ada beberapa misteri mendalam pada diri Omar dan ia berharap bisa memahaminya kemudian.

Orang pertama langsung diterima sebagai muridnya. Orang kedua dikirim ke guru lain. Orang ketiga dikirim kembali untuk mempelajari Khayyam. Seorang murid bertanya kepada Khan, apakah hal itu adalah cara menilai potensialitas calon Sufi. "Kita telah mengetahui satu hal tentang mereka, yaitu kemampuan intuitif mereka," kata sang Guru, "tapi apakah kalian menganggap beberapa ujian itu adalah suatu latihan. Lebih dari itu, hal itu berfungsi untuk melatih pengamatan secara lebih baik. Itulah Sufisme -- sebaliknya, jika kalian suka, itulah cara belajar, perasaan dan interaksi antara manusia dan pikiran."

Suatu hari saya hadir ketika seorang pengikut Omar antusias berkebangsaan Jerman menyampaikan sebuah analisa panjang lebar tentang Omar dan berbagai acuannya kepada seorang Guru Sufi. Diawali dengan anggapan bahwa Omar telah diungkap von Hammer hampir empat puluh tahun sebelum Cowell dan FitzGerald, ia mengakhiri dengan mengemukakan kelegaannya sendiri bahwa Rubaiyat mencakup hampir setiap teori filsafat.

Orang bijak itu menyimaknya dengan tenang kemudian menyampaikan cerita berikut ini:

Seorang sarjana menemui seorang guru Sufi dan bertanya kepadanya tentang tujuh filosuf Yunani yang lari ke Persia menghindari tirani Justinian, yang telah menutup sekolah-sekolah filsafat mereka. "Mereka termasuk kelompok kami," jawab guru Sufi itu.

Yang menggembirakan, sarjana itu pergi untuk menulis sebuah risalah tentang asal-usul pemikiran Yunani terhadap para Sufi.

Suatu hari ia menemui seorang musafir Sufi yang mengatakan, "Guru Halimi dan Rumi yang agung mengutip Yesus sebagai seorang guru Sufi."

"Mungkin maksudnya bahwa pengetahuan Yunani telah menyebar di kalangan Kristen dan Sufi," pikir si sarjana. Ia menulis hal ini di dalam risalahnya.

Dalam sebuah perjalanan suci, guru yang berpikiran orisinal itu telah melintasi kota kediaman si sarjana. Ketika bertemu dengannya, ia berkata, "Para penentang itu dan beribu-ribu orang yang tak dikenal adalah kelompok kami."1

Sahabat saya, sang Sufi, telah mengamati secara seksama skolastik Jerman. "Anggur mengandung air, gula, sari buah dan warna. Raciklah semua itu, niscaya engkau tak akan bisa menghasilkan anggur."

"Kami sedang duduk di sebuah ruangan. Seseorang mengira, 'Rumah Cina mempunyai banyak kamar. Oleh karena itu, semua ruang ini meniru rumah Cina. Di sini juga ada karpet, ini dipengaruhi Mongol. Seorang pelayan kemudian masuk -- tentu saja ini adalah kebiasaan Romawi; atau kebiasaan Fir'aun? Sekarang, melalui jendela aku melihat seekor burung. Penelitian menunjukkan bahwa burung-burung yang bertengger dan dilihat melalui jendela tentu saja sesuai dengan kebiasaan orang Mesir kuno. Alangkah menakjubkan perpaduan dari warisan kebiasaan di rumah ini!' Apa pendapatmu tentang seorang manusia?"

Teori Omar yang disebut transmigrasi itu telah diapresiasi oleh Profesor Browne, salah seorang pakar sastra Persia berkebangsaan Inggris dan pengarang buku pegangan, Literary History of Persia. Ia telah mengutip sebuah dongeng dari penyair Sufi ini, dan dianggap membuktikan bahwa ia percaya pada reinkarnasi.

Konon penyair ini melewati sebuah padepokan tua di Nisyapur beserta sekelompok muridnya. Sekelompok keledai masuk ke dalamnya dengan membawa batu-bata untuk perbaikan bangunan itu. Namun salah satunya enggan melewati pintu gerbangnya. Omar melihat peristiwa ini lalu tersenyum dan menaiki keledai itu sambil melantunkan sebuah syair secara spontan beikut ini

Wahai orang yang telah pergi dari kembali,
Namamu telah hilang di antara nama-nama lain.
Kuku-kukumu telah berubah menjadi kuku keledai ini:
Janggutmu, ekormu, kini sangat berbeda.

Keledai pandir itu kini leluasa memasuki halaman padepokan. Dengan kebingungan, muridnya bertanya, "Wahai orang Bijak, apa maksudnya ini?"

"Jiwa yang kini ada di dalam keledai itu adalah jiwa dari tubuh seorang guru di padepokan ini. Tentu saja ia enggan masuk ke dalamnya sebagai seekor keledai. Kemudian, dengan menunjukkan bahwa ia diakui sebagai seorang guru, maka ia pasti masuk ke lingkungan ini."

Namun Omar bukan sedang (sebagaimana dikira kalangan eksternalis) menunjukkan bahwa beberapa unsur entitas manusia dapat masuk ke dalam tubuh makhluk hidup yang lain, dan juga tidak untuk mengambil suatu kesempatan menandingi skolastisisme gersang di zamannya, ataupun sedang menunjukkan bahwa ia mempengaruhi keledai dengan syair itu.

Jika ia tidak menunjukkan apa-apa di hadapan muridnya, tidak melontarkan sebuah gurauan, bukan melakukan suatu perbuatan misterius, tidak berkhotbah tentang suatu bentuk reinkarnasi dan menggubahnya secara esensial, lalu apa yang dilakukannya?

Ia sedang melakukan apa yang biasa dilakukan oleh guru Sufi -- memberikan pengaruh kompleks demi kebaikan murid, membiarkan mereka melibatkan diri ketika menyertai seorang guru melalui sebuah pengalaman komprehensif. Ini adalah suatu bentuk komunikasi demonstratif yang hanya dikenal oleh mereka yang telah mengalami pahit getir latihan sebuah madzhab Sufi. Proses itu diuraikan dengan pemahaman dalam suatu upaya menghubungkannya dengan peristiwa tunggal, bahkan peristiwa ganda, untuk tujuan rasional, namun arti tujuan rasional ini dilepaskan.

Murid mempelajari melalui metode itu dan tidak mungkin disampaikan dengan metode lain mana pun. Mereproduksinya dengan cara tertentu, kecuali menambah sebuah peringatan dengan mencoba menunjukkan karakter khusus. Situasi ini setidaknya akan tampak kabur bagi kebanyakan pengamat serius.

Nama Omar yang dipilih untuk dirinya -- Omar Khayyam - mengungkapkan beberapa jenis rahasia bagi Ghaqi -- sang Dermawan (Orang yang sangat suka berbuat baik), sebuah nama yang digunakan untuk orang yang tidak peduli pada hal-hal duniawi biasa. Hilangnya perhatian itu mencegah dirinya untuk mengembangkan persepsi dari dimensi lain.

Salah satu pembelaan para penyair terhadap Omar dalam melawan pemikir mekanis -- akademis atau emosional -- mungkin masih digunakan sebagai justifikasi untuk mencela pengkritiknya yang arogan dan para pengulas:

Wahai orang yang tidak mengerti,
Jalan itu bukan ini dan itu!
READ MORE - OMAR KHAYYAM

Thursday, October 22, 2009

SAYYIDINA ALI IBN ABU THALIB KARAMALLAHU WAJ'AH R.A.

Dialah sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib –semoga Allah meridloinya- keponakan –anak dari paman- Rasulullah saw, dan bapaknya bernama Abu Thalib Abdu Manaf bin Abdul Mutthalub, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim –semoga Allah meridloinya-.

Beliau dilahirkan 10 tahun sebelum kenabian, dia anak paling kecil dari saudara-saudaranya, dan dididik di rumah Nabi saw, dan saat wahyu diturunkan kepada Rasulullah saw, beliau mengajaknya untuk beriman kepada Allah yang Maha Esa, maka segera beliau menerima da’wah tersebut dan memeluk agama Allah (Islam), sehingga beliau dinggap sebagai orang pertama yang masuk Islam dari golongan anak-anak.

Saat bapaknya melihatnya sholat bersama Rasulullah saw, dia berkata kepadanya : “Wahai anakku, agama apakah yang engkau anut ini ?” Ali berkata : “Wahai Abi, saya beriman kepada Allah, dan percaya dengan apa yang dibawa oleh Muhammad, saya shalat bersamanya dan mengikutinya”. Bapaknya berkata : “ketahuilah, bahwa dia (Nabi) tidak akan mengajak kamu kecuali dalam kebaikan, maka ikutilah dia”.

Rasulullah saw sangat mencintai Ali dan selalu memujinya, pernah beliau bersabda kepadanya : “Enkau adalah bagian dariku, dan Aku adalah bagian darimu”. (Al-Bukhari)

Dan beliau juga pernah bersabda : “Tidak ada yang mencintaimu kecuali orang yang beriman, dan tidak ada yang memusuhimu kecuali orang munafik”. (Muslim)

Saat Rasulullah saw akan melakukan hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk tidur diatas dipannya, dan disaat malam mulai gelap sekelompok kafir Mekkah melakukan pengepungan dimana setiap orang diantara mereka menggenggam pedang yang menghunus tajam, mereka berdiri di depan pintu rumah Rasulullah saw menunggu keluar untuk menunaikan sholat fajar agar mereka dapat memenggalnya sekaligus, namun Allah SWT telah memberitahukan konspirasi tersebut dan menyuruhnya untuk keluar dari hadapan mereka. Lalu Nabipun keluar dari rumahnya sedangkan Allah SWT telah membutakan penglihatan orang-orang musyrik, dan nabi menaburkan debu diatas kepala mereka sambil membacakan firman Allah SWT :

“Dan kami jadikan penghalang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan kami butakan mereka hingga mereka tidak dapat melihat”. (QS. Yasin : 9)

Kemudian saat matahari mulai terbit; orang-orang musyrik baru sadar lalu masuk rumah Nabi sambil menghunuskan pedang mereka untuk membunuh orang yang sedang tidur, namun mereka tidak menemukan Rasulullah saw disana kecuali anak paman beliau, Ali bin Abi Thalib, yang segera bangkit dari tidurnya sambil berhadapan dengan mereka dengan gagah berani.

Setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, Ali tinggal di Mekkah selama beberapa saat guna menunaikan titipan yang diwasiatkan kepadanya seperti yang telah diperintahkan oleh Rasulullah saw. Dan setelah Ali hijrah ke Madinah Rasulullah saw telah mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor, lalu beliau berkata kepadanya : “wahai Rasulullah, engkau telah mempersaudarakan antara para sahabatmu, tapi saya belum engkau persaudarakan dengan siapapun ? lalu beliau bersabda kepadanya : “Engkau adalah saudaraku di dunia dan di Akhirat”. (ibnu Abdil Bar)

Rasulullah saw juga telah memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga, beliau adalah salah seorang calon penghuni surga yang tidak akan dihisab lebih dahulu.

Sebagaimana Rasulullah saw juga telah mengawinkan beliau dari salah seorang putrinya, Fatimah, sedangkan Ali memberikan mahar dengan uang dari harga baju besi yang dihadiahkan Rasulullah saw kepadanya, lalu beliau menjualnya dan memberikan uangnya kepada wanita yang paling mulia di dunia dan kembangnya Rasulullah saw.

Ali menjalani hidupnya bersama istrinya dengan aman, tentram dan penuh kasih sayang, dan beliau dikaruniai anak kembar Hasan dan Husain.

Suatu hari Rasulullah saw pergi ke rumah Ali namun beliau tidak menemui Ali disana, lalu beliau bertanya kepada istrinya : “Dimana anak pamanmu berada ?” Fatimah menjawab : “Di masjid” lalu Rasulullah saw pun pergi kesana, dan beliau mendapati bajunya terjatuh dari pundaknya dan terkena debu, lalu beliaupun membersihkannya, dan berkata : “Duduklah wahai pemuka debu… duduklah wahai pemuka debu”. (Al-Bukhari)

Ali juga mengikuti seluruh peperangan, baliau terkenal dengan keberanian dan kepahlawanannya, dan pada saat terjadi perang khaibar, Nabi saw bersabda : “Besok saya akan memberikan bendera kepada seseorang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya (atau dia berkata : orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya), semoga Allah membukakan tangannya (memberkahinya)”. (Al-Bukhari)

Lalu para sahabatpun berharap mendapatkan apa yang telah Raslulullah saw sabdakan menjadi pemegang bendera, lalu setelah hari menjelang pagi, Nabi bertanya keadaan Ali, dikatakan kepadanya : “Sesungguhnya mata beliau sedang sakit wahai Rasulullah”. Nabi bersabda : “Utuslah salah seorang dari kalian kepadanya dan datangkanlah dia kepadaku”.
Setelah beliau menghadap Rasulullah saw, beliau membasuh matanya dan mendoakannya, maka setelah itu menjadi sembuh seakan tidak pernah mengalami sakit apapun, kemudian Ali berkata kepadanya : “Wahai Rasulullah, saya akan memerangi mereka sampai menjadi seperti kami. Nabi bersabda : “Lakukanlah dengan mengutus delegasi hingga bisa mengetahui keadaan mereka, kemudian serukanlah kepada mereka akan Islam, dan kabarkanlah tentang kewajiban dari hak Allah di dalamnya, demi Allah, jika seorang diantara mereka mendapatkan hidayah melaluimu lebih baik bagimu dari unta merah” (Al-Bukhari) kemudian Allah memberikan kemenangan melalui tangannya.

Setelah Allah menurunkan ayat : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-besihnya”. (QS. Al-Ahzab : 33), Rasulullah saw berdo’a untuk Fatimah, Ali, Hasan dan Husain –semoga Allah meridloi mereka- saat berada di rumah sayyidah Ummu Salmah, dan bersabda : “Ya Allah sesungguhnya mereka adalah ahlul bait saya maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya”. (Ibnu Abdil bar)

Ali banyak menguasai ilmu pengetahun, saat Sayyidah Aisyah ditanya tentang sesuatu dia menjawab : “Tanyakanlah kepada Ali. Sebagaimana Umar juga berkata demikian. Sedangkan Ali pernah berkata : “Tanyakanlah kepada saya , demi Allah tidak ada pertanyaan yang kalian tanyakan kepada saya kecuali akan saya kabarkan kepada kalian, tanyakanlah kepada saya tentang Al-Qur an, karena demi Allah tidak satu ayatpun yang turun kecuali saya mengetahui waktu malam atau siang turun ayat tersebut, di daratan ataupun dipegunungan.

Abu Bakar dan Umar dalam kekholifahan setelah wafatnya Rasulullah saw mengetahui dan menyadari akan kelebihan Ali, sedangkan Umar pernah memilihnya sebagai kandidat dari enam orang yang dicalonkan sebagai khalifah, dan saat Utsman syahid Ali dipilih menjadi khalifah setelahnya.

Setelah imam Ali menjabat sebagai khalifah pusat pemerintahan dipindahkan dari Madinah ke Iraq, beliau sangat perhatian terhadap urusan umatnya, berjalan mengitari pasar dengan ditemani tongkatnya, dan selalu menyeru manusia untuk taat kepada Allah, jujur, baik dalam berniaga, memenuhi timbangan dan neraca.

Sebagaimana beliau juga selalu membagi harta yang masuk ke baitul mal diantara kaum muslimin. Dan sebelum wafatnya beliau memerintahkan untuk membagikan seluruh harta, kemudian setelah itu menyuruhnya untuk membersihkan baitul mal, lalu berdiri untuk sholat dengan harapan hal tersebut menjadi saksi dihari kiamat.

Beliau sangat tekun beribadah, selalu melakukan qiyamul lail dan memanjangkan sholatnya, dan beliau berkata : “Apa urusan saya dengan dunia, wahai dunia yang menyimpangkanku dari selainku”.

Suatu hari ada dua wanita datang menghadap imam Ali untuk menanyakan sesuatu, salah seorang berasal dari kalangan arab terhormat sedangkan yang lainnya dari golongan budak, lalu beliau memerintahkan kepada keduanya untuk memecahkan makanan dan membagi uang 40 dirham, lalu budak wanita mengambil pemberian yang diberikan lalu pergi, kemudian dia berkata : wahai Amirul Mu’minin, engkau memberikan seperti yang telah saya berikan kepada wanita budak itu, padahal saya adalah wanita arab yang terhormat sedangkan dia adalah budak ? lalu imam Ali berkata : sesungguhnya saya pernah melihat dalam Al-Qur an dan saya tidak pernah menemukan keutamaan antara anak ismail dengan anak Ishak.

Diakhir kekhhalafahan Imam Ali fitnah telah menyebar luas hingga kegaduhan terjadi dimana-mana bahkan meluas ke negeri-negeri Islam, lalu keluar tiga orang pemuda dari khawarij dan bersepakat membunuh orang yang menjadi penyebab berkembangnya fitnah, mereka menyangka Ali, Mu’awiyah dan Amru bin Al-‘Ash, adapun Mu’wiyah dan Amru selamat dari pembunuhan, sedangkan Ali seorang Fasik yang bernama Abdul Rahman bin Muljam telah menunggunya saat selesai dari sholat fajar dan manikamnya hingga mengenai kepalanya hingga merenggut nyawanya, hal ini terjadi pada tahun 40 H, sedang umur beliau saat itu 65 tahun.

Beliau dikebumikan di Kufah setelah berjalan kekhalifahan Islam selama 5 tahun kurang 4 bulan, beliau meriwayatkan hadits Rasulullah saw sebanyak 400 hadits, semoga Allah meridloinya dan dia ridlo kepada Allah.

W A S I A T

Wasiyat yang diberikan kepada putera-puteranya beberapa saat sebelum meninggalkan dunia yang fana ini.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu apapun bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, diutus membawa hidayat dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas agama-agama lain, walau kaum musyrikin tidak menyukainya. Kemudian shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semuanya kupersembahkan kepada Allah, Tuhan penguasa alam semesta, tanpa sekutu apa pun bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku ini adalah orang muslim pertama.
"Kuwasiyatkan kepada kalian berdua supaya tetap bertaqwa kepada Allah. Janganlah kalian mengejar-ngejar dunia walau dunia mengejar kalian, dan janganlah menyesal jika ada sebagian dunia itu lepas meninggalkan kalian. Katakanlah hal-hal yang benar dan berbuatlah untuk memperoleh pahala akhirat. Jadilah kalian penentang orang dzalim dan pembela orang madzlum."
"Kuwasiyatkan kepada kalian berdua, kepada semua anak-anakku, para ahlu-baitku, dan kepada siapa saja yang mendengar wasiatku ini, supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah. Hendaknya kalian mengatur baik-baik urusan kalian dan jagalah hubungan persaudaraan di antara kalian.
Sebab aku mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. mengatakan: Memperbaiki dan menjaga baik-baik hubungan persaudaraan antara sesama kaum muslimin lebih afdhal daripada sembahyang dan puasa umum. Ketahuilah, bahwa pertengkaran itu merusak agama, dan ingatlah bahwa tak ada kekuatan apa pun selain atas perkenaan Allah. Perhatikanlah keadaan sanak famili kalian dan eratkan hubungan dengan mereka, Allah akan melimpahkan kemudahan kepada kalian di hari perhitungan kelak."

"Allah…, Allah,
perhatikanlah anak-anak yatim. Janganlah mereka itu sampai kelaparan dan jangan sampai kehilangan hak. Aku mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. berpesan: Barang siapa mengasuh anak yatim sampai ia menjadi kecukupan, orang itu pasti akan dikaruniai sorga oleh Allah. Sama halnya seperti siksa neraka yang pasti akan ditimpakan Allah kepada orang yang memakan harta anak yatim."

"Allah…, Allah,
perhatikanlah Al-Qur'an, jangan sampai kalian kedahuluan orang lain dalam mengamalkannya.

Allah…, Allah…,
perhatikanlah tetangga-tetangga kalian, sebab mereka itu adalah wasiyat Nabi kalian. Sedemikian sungguhnya beliau mewasyiatkan, sampai kami menduga bahwa beliau akan menetapkan hak waris bagi mereka.

Allah…, Allah…,
perhatikanlah rumah Allah, masjid Al-Haram, janganlah kalian tinggalkan selama kalian masih hidup. Sebab jika sampai kalian tinggalkan, kalian tidak akan dipandang orang. Barang siapa selalu dekat kepadanya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Allah…, Allah…,
peliharalah shalat baik-baik, sebab shalat itu amal perbuatan yang paling mulia dan merupakan tiang agama kalian.

Allah…, Allah…, tunaikanlah zakat sebagaimana mestinya, sebab zakat itu meniadakan murka Allah.

Allah…, Allah…, laksanakanlah puasa bulan Ramadhan, sebab puasa itu merupakan penutup jalan ke neraka."

"Allah…, Allah…,
berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Hanya ada dua macam saja orang yang berjuang di jalan Allah, yaitu seorang pemimpin yang memberikan bimbingan dan orang yang patuh kepada pemimpin serta mengikuti kebenaran pimpinannya.

Allah..., Allah…,
jagalah baik-baik keturunan Nabi kalian, jangan sampai mereka dianiaya orang di depan mata kalian. Jagalah baik-baik para sahabat Nabi yang tidak mengada-adakan bid'ah mungkar, dan yang tidak melindungi orang yang mengada-adakan bid'ah mungkar.
Sebab Rasul Allah s.a.w. telah memberi wasiyat tentang mereka itu, dan mengutuk orang dari mereka atau orang yang bukan mereka, yang mengada-adakan bid'ah mungkar dan mengutuk pula orang-orang yang memberi perlindungan kepada mereka."

"Allah…, Allah…,
perhatikanlah para fakir miskin. Ikut sertakan mereka dalam kehidupan kalian.

Allah…, Allah…,
jagalah baik-baik wanita kalian dan para hamba sahaya kalian, sebab Rasul Allah s.a.w. mewasiyatkan supaya kalian menaruh perhatian kepada dua golongan lemah itu, yaitu kaum wanita dan para hamba sahaya."
Setelah berhenti sebentar untuk memulihkan tenaga yang semakin melemah, Imam Ali r.a. melanjutkan:
"Dalam menjalankan kewajiban terhadap Allah, janganlah kalian takut dicela orang lain.
Allah akan melindungi dan menyelamatkan kalian dari orang-orang yang hendak berbuat jahat terhadap kalian.
Berkatalah baik-baik kepada semua orang sebagaimana telah diperintahkan Allah kepada kalian. Janganlah kalian lengah meninggalkan amr ma'ruf dan nahi mungkar, agar Allah tidak melimpahkan kekuasaan kepada orang-orang yang berperangai jahat. Sebab dalam keadaan seperti itu doa kalian tidak akan dikabulkan lagi."
"Hendaknya kalian saling berhubungan erat, saling tolong-menolong dan saling bercinta-kasih. Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, saling bertolak belakang atau bercerai-berai. Hendaknya kalian saling bantu-membantu dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah saling-bantu dalam berbuat dosa dan permusuhan."
"Bertaqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya siksa Allah itu sangat berat. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara kalian, hai para ahlul-bait. Allah melestarikan Nabi s.a.w. melalui kalian.

Kuucapkan selamat tinggal sebaik-baiknya kepada kalian dan kuucapkan pula Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh…"

M U N A J A T

Segala puji bagi-Mu, wahai Pemilik Kedermawanan, Keagungan, dan Ketinggian.Engkau Maha Agung, memberi dan mencegah siapa yang Kau kehendaki.
Hanya kepada-Mu aku mengadu di saat sulit dan bahagia, wahai Tuhanku, Penciptaku, Pelindungku dan Suakaku

Ilahi, jika dosa telah menumpuk, maka maaf-Mu lebih agung dan lebih lapang dari dosaku

Ilahi, jika kuturuti segala kehendak nafsuku, maka kini aku berkelana di sahara penyesalan.

Ilahi, Engkau melihat kefakiran dan kepapaanku, sedangkan Engkau mendengar munajatku yang tersembunyi

Ilahi, jangan Kau putus harapanku dan jangan biarkan hatiku tersesat, karena asaku tertumpu pada aliran karunia-Mu

Ilahi, jangan Kau sia-siakan daku atau Kau campakkan aku, maka siapa lagi yang dapat kuharap dan kujadikan penyafaat

Ilahi, lindungilah aku dari siksa-Mu, karena aku adalah hamba-Mu yang terpenjara, hina, takut dan bersimpuh pada-Mu

Ilahi, bahagiakanlah aku dengan mengajarkan hujjahku bila aku sudah kembali ke alam kuburku

Ilahi, jika Kau siksa daku seribu tahun, maka temali harapanku kepada-Mu tak kan terputus

Ilahi, biarkan aku merasakan manisnya maaf-Mu pada hari tiada keturunan dan harta yang bermanfaat di sana

Ilahi, jika Kau tak menjagaku, niscaya aku kan binasa, dan jika Kau memeliharaku, maka aku takkan binasa

Ilahi, jika Engkau tak maafkan pendosa, maka siapakah yang kan memaafkan orang jahat yang berlumuran hawa nafsu?

Ilahi, jika aku teledor dalam mencari ketakwaan, maka kini aku berlari mengejar maaf-Muilahi, jika aku berbuat kesalahan tanpa sepengetahuanku, aku selalu mengharap-Mu sehingga orang-orang berkata, “Alangkah tidak takutnya ia!”

Ilahi, dosa-dosaku telah menumpuk bak gunung menjulang, namun ampunan-Mu lebih agung dan tinggi dari dosaku

Ilahi, mengingat karunia-Mu dapat menyelamatkan bara (hati dan kekhawatiran)ku, sedangkan mengingat dosa-dosa, maka mengucurlah air mataku

Ilahi, maafkanlah kesalahanku dan musnahkanlah dosa-dosaku, karena aku mengaku, takut dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, berilah kebahagiaan dan ketenangan kepadaku, karena aku tak kan mengetuk pintu selain-Mu

Ilahi, jika Kau usir aku atau Kau hinakan aku, maka apa dayaku dan tak ada yang bisa kuperbuat, ya Rabbi?

Ilahi, pencinta-Mu kan terjaga sepanjang malam, bermunajat dan memohon kepada-Mu, sedangkan orang yang lupa akan terlelap tidur

Ilahi, makhluk ini berada di antara dua tidur, maka kala sadar ia bersimpuh di malam hari.Mereka semua mengharap karunia agung-Mu, mengharap rahmat-Mu yang agung dan menginginkan keabadian

Ilahi, asaku memberikan sebuah harapan kebahagiaan, sedang keburukan dosaku akan menghinakanku

Ilahi, jika Kau memaafkanku, maka maaf-Mu adalah penyelamatku, dan jika tidak, aku kan hancur dengan dosa yang membinasakan ini

Ilahi, bangkitkanlah aku untuk agama Muhammad dan segera bertaubat, bertakwa, khusyu’ dan bersimpuh di haribaan-Mu

Ilahi, jangan Kau halangi aku dari syafaatnya yang agung, karena syafaatnya pasti terkabulkan. Curahkan sholawat atas mereka selama para muwahhid memohon dan orang-orang saleh bermunajat bersimpuh di pintu-Mu
–Ali bin Abi Thalib–
READ MORE - SAYYIDINA ALI IBN ABU THALIB KARAMALLAHU WAJ'AH R.A.

SAYYIDINA UTSMAN IBN 'AFFAN AD-DZUNNURAINI R.A.

Nama beliau adalah Utsman bin 'Affan bin Abil 'Ash bin Umayyah bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf bin Qusyai bin Kilab. Beliau menisbatkan dirinya kepada bani Umayyah, salah satu kabilah Quraisy. Beliau dilahirkan di Mekah enam tahun setelah tahun gajah, menurut pendapat yang shahih. Beliau tumbuh diatas akhlak yang mulia dan perangai yang baik. Beliau sangat pemalu, bersih jiwa dan suci lisannya, sangat sopan santun, pendiam dan tidak pernah menyakiti orang lain. Beliau suka ketenangan dan tidak suka keramaian/kegaduhan, perselisihan, teriakan keras. Dan beliau rela mengorbankan nyawanya demi untuk menjauhi hal-hal tersebut. Dan karena kebaikan akhlak dan mu'amalahnya, beliau dicintai oleh Quraisy, hingga merekapun menjadikannya sebagai perumpamaan. Dari sini Imam Asy-Sya'bi mengatakan : "Dahulu Utsman sangat dicintai oleh orang-orang Quraisy, mereka menjadikannya sebagai suri taudalan, mereka memuliakannya. Sampai-sampai para ibu dari kalangan orang-orang Arab, jika menghibur anaknya, dia mengatakan : Demi Allah yang Maha Penyayang, aku mencintaimu seperti kecintaan Quraisy kepada Utsman.

Utsman bin 'Affan Radhiyallahu ‘anhu hidup ditengah orang-orang musyrikin Quraisy yang menyembah berhala-berhala, namun beliau tidak menyukai kesyirikan, animisme/dinamisme serta adatistiadat yang kotor. Beliau menjauhi segala bentuk kotoron jahiliyah yang mereka lakukan, beliau tidak pernah berzina, membunuh, ataupun meminum khamer. Ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk berdakwah di jalan Allah, dan Abu Bakar sudah masuk Islam, beliaupun pergi mendatangi Utsman mengajaknya masuk Islam. Utsman pun seketika itu langsung menerima ajakan untuk masuk Islam dan beliau mengucapkan dua kalimat syahadat.
Kemudian ketika tersebar berita akan Islamnya penduduk Mekkah dan sampai berita ini kepada mereka di Habasyah, mereka pun kembali hingga ketika telah mendekat ke kota Mekkah, mereka akhirnya sadar bahwa berita tersebut tidaklah benar. Tapi, mereka tetap masuk kota Mekkah dengan jaminan keamanan dari sebagian penduduk Mekkah. Diantara yang kembali tersebut adalah Utsman bin 'Affan dan istri beliau Ruqayyah Radhiyallahu ‘anha. Utsman kembali menetap di Mekkah dan kembali mendapatkan gangguan dan penganiayaan dari orang-orang Mekkah. Tapi hal tersebut tidak membuatnya lari dari agamanya, hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berhijrah ke kota Madinah An-Nabawiyah bersama para sahabatnya dan beliau pun ikut serta berhijrah. Dan Utsman termasuk orang yang berhijrah dua kali. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya (Fathul Bari 7/363)

Beliaupun tegar dengan keimanannya, bahkan semakin hari semakin bertambah keimanan beliau. Beliau tinggal di kota Madinah, dan tidaklah beliau meninggalkannya sejenak melainkan beliau ingin segera kembali kepangkuannya. Telah dishahihkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullahu bahwasanya beliau tidak berpamitan kepada istri-istri beliau ketika keluar dari Mekkah -melainkan pada saat beliau sudah naik kendaraan- dan beliau percepat keluarnya, karena khawatir tidak bisa berhijrah. (Fathul Bari 2/571)
Beliau memiliki kedudukan yang tinggi disisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan hal ini diketahui oleh para sahabat. Dari sinilah Ibnu Umari Radhiyallahu ‘anhu berkata : "Dahulu pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kita meyakini bahwa tidak ada yang lebih utama dari Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian kami biarkan selanjutnya kepada para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al-Jami' Ash-Shahih bersama Fathul Bari (7/53-54)
Pengepungan berlanjut hingga pagi hari jumat, yang bertepatan dengan 12 Dzul Hijjah 35 H. Pada waktu itu Utsman Radhiyallahu ‘anhu sedang duduk dirumahnya bersama para sahabat yang berjumlah banyak sekali dan selain mereka yang ingin membela 26 HR.Ibnu Abdil Bar dalam Al-Istii'aab (bersama Al-Ishabah 3/78) dengan sanad yang hasan. dan melindungi beliau dari kebengisan para pendemo tersebut. Dan Utsman Radhiyallahu ‘anhu telah memeritahkan mereka untuk keluar dari rumah dan melarang mereka untuk membelanya, namun mereka tetap berkeinginan membela beliau, seperti yang telah disebutkan. Dan terkahir kali, beliau dapat menjadikan mereka menerima perintah beliau, hingga mereka semua keluar dari rumah dan membiarkan beliau sendiri dengan para pendemo itu. Tidak ada yang tersisa dirumah melainkan Utsman dan keluarganya saja. Tidak ada lagi seorang pun yang menjaga Utsman. Lalu beliau membuka pintu rumah. Pada saat itu beliau Radhiyallahu ‘anhu sedang berpuasa, lalu tiba-tiba masuk seseorang yang tidak disebutkan namanya. Ketika dia melihat beliau Radhiyallahu ‘anhu dia berkata : "Antara aku dan engkau adalah kitabullah", kemudian dia keluar dan meninggalkan Utsman. Tidak berselang lama, masuk seseorang dari Bani Sadus yang dijuluki sebagahi Al- Maut Al-Aswad (Kematian hitam), lalu dia mencekik beliau dan cekikannya seperti tebasan pedang. Dia berkata : "Demi Allah, aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih lembut dari lehernya. Aku telah mencekiknya, hingga aku melihat nafasnya seperti jin yang mengalir di tubuhnya".

Kemudian dia menebaskan pedangnya kepada beliau, dan Utsman Radhiyallahu ‘anhu pun menangkisnya dengan tangan beliau, hingga terputus. Lalu Utsman berkata : "Demi Allah, ini adalah tangan yang pertama kali menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an". Yang demikian itu, karena beliau termasuk para penulis wahyu (al-Qur'an) dan beliau termasuk orang pertama yang menulis mushaf dengan didekte langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau terbunuh dan mushaf berada didepan beliau. Darah mengalir dari potongan tangan beliau hingga mengenai mushaf yang berada didepan beliau yang sedang beliau baca. Darah tersebut jatuh pada firman Allah :
Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS.Al-Baqarah : 137]
Ketika pembunuh Utsman –orangnya hitam telah selesai, dia mengangkat atau membentangkan tangannya didalam rumah, seraya berkata : Akulah pembunuh Na'tsal. Ruh beliau yang suci itu pun naik kepada Rabnya dengan penuh keridhaan dan mengadukan kedzaliman para pelakunya. Semoga keridhaan Allah bagi Utsman dan semoga Allah memasukkannya kedalam surga-Nya yang luas bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta para sahabat-sahabat beliau. Dan beliau wafat pada hari jumat pagi 12 Dzul Hijjah .
1. Dalam kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertamu kepada 'Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya. 'Utsman berkata kepada laki-laki itu, "Aku melihat ada bekas zina di matamu." Laki-laki itu bertanya, "Apakah wahyu masih diturunkan sctelah Rasulullah Saw wafat?" `Utsman menjawab, "Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin." `Utsman r.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.
2. Ibnu `Umar r.a. menceritakan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati 'Utsman r.a. yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat 'Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan).
3. Diceritakan bahwa Abdullah bin Salam mendatangi `Utsman r.a. yang sedang dikurung dalam tahanan untuk mengucapkan salam kepadanya. 'Utsman bercerita, "Selamat datang saudaraku. Aku melihat Rasulullah Saw dalam ventilasi kecil ini. Rasulullah bertanya, "Utsman, apakah mereka mengurungmu?' Aku menjawab, `Ya.' Lalu beliau memberikan seember air kepadaku dan aku meminumnya sampai puas. Rasulullah berkata lagi, `Kalau kau mau bebas.niscaya engkau akan bebas, dan kalau kau mau makan bersama kami mari ikut kami.' Kemudian aku memilih makan bersama mereka." Pada hari itu juga, `Utsman terbunuh.

READ MORE - SAYYIDINA UTSMAN IBN 'AFFAN AD-DZUNNURAINI R.A.

SAYYIDINA UMAR IBN KHATAB AL-FARUQ R.A.

Sayidina Umar Ibnu Khattab, nama besar yang harum di bumi dan di langit, salah seorang dari empat sahabat besar yang utama dan beliau dijamin syurga. Beliau merupakan khalifah kedua Rasulullah SAW setelah Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq. Banyak kisah menyebutkan tentang ketaqwaan Sayidina Umar Ibnu Khattab, tentang zuhudnya, tentang ketegasannya membela agama Allah dan sifat waraknya..

Sayidina Umar adalah salah satu bukti kebesaran dan kehebatan Rasulullah SAW kekasih Allah. Berkat doa Rasulullah beliau memeluk Islam. Rasulullah mampu mengubah dan mendidik, mengenalkan Allah pada Umar Ibnu Khattab sehingga menjadi seorang yang super bertaqwa. Dari manusia yang pernah mengubur bayi perempuannya hidup-hidup menjadi manusia yang mampu menyerahkan dunianya, hidup matinya untuk Allah dan RasulNya.Dari manusia yang kejam dan ditakuti se-jazirah arab menjadi manusia yang paling disegani dan dihormati di Timur dan di Barat (Persia & Romawi). Manusia yang membuat seantero jazirah arab terkejut dan ciut nyali ketika mendengar beliau memeluk agama Islam. Islam telah mengubahnya menjadi manusia yang sangat penyayang, adil dan sangat membela orang miskin. Dari manusia yang sangat keras menjadi manusia yang lembut hatinya, hingga linangan air matanya ketika mengingat dosa membekas di pipinya.

Air matanya selalu mengalir ketika takut kepada Allah, ketika teringat dosa-dosanya dan juga di saat mengaharapkan keampunanNya. Karena takut dengan dosa-dosanya, maka setiap malam beliau memukuli punggungnya sendiri karena merasa banyak berdosa dengan Tuhan. Biarlah dosa-dosaku aku tanggung di dunia daripada aku harus menanggungnya di akhirat kelak begitulah hatinya merintih. Sayidina Umar, dari manusia penyembah roti dan patung menjadi manusia pemuja Allah yang hatinya begitu takut dan cinta dengan Allah.

Sayidina Umar adalah manusia hasil didikan Nabi akhir zaman. Rasa takutnya dengan Tuhan begitu terlihat, hingga selalu bergetar dan menggigil badannya, serta pucat wajahnya ketika mengambil air wudlu. Ketika ditanya oleh sahabat mengenai hal itu, beliau menjawab : “ tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap sesaat lagi?”.Semakin dekat dengan waktu sholat, semakin hebat getaran hati beliau. Hingga degupan jantung beliau ketika sholat terdengar sampai tiga shaf di belakangnya.Bahkan tercium bau hati terbakar karena hatinya terlalu takut dengan Tuhan. Begitulah rasa takut beliau sewaktu menghadap Allah, Raja dari segala raja.

Sifat tawakal beliau kepada Allah begitu kental, hingga setelah menjadi khalifah pun beliau tidak memiliki pengawal. Suatu ketika seorang utusan Romawi terheran-heran ketika menyaksikan Amirul Mukminin ditemuinya sedang tertidur seorang diri di bawah sebuah pohon, tanpa ada pengawal satupun. Ketika utusan Romawi itu bersiap hendak mengayunkan pedang ke arah sayidina Umar, tiba-tiba muncul dua ekor singa yang akan menerkam pengawal itu. Itulah diantara karamah Sayidina Umar ibnu Khattab. Dan akhirnya utusan itu pun masuk Islam, bukan dengan kekerasan tetapi dengan karamah (kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang sangat dekat padaNya, kalau bagi Nabi dan Rasul disebut Mukjizat).

Pakaian Sayidina Umar teramat sederhana, bahkan sampai bertambal-tambal. Beliau sering memanggul sendiri karung-karung makanan untuk rakyatnya yang miskin. Ketika ditanya oleh orang kenapa beliau berbuat demikian sedangkan beliau adalah khalifah, beliau menjawab : “sesungguhnya yang akan ditanya oleh Allah mengenai perkara ini ( keadaan rakyat ) adalah aku, bukan kalian” .Artinya walaupun dunia di gengamannya tetapi tidak terpaut di hati, jasadnya bersama manusia tetapi hatinya bersama Tuhan ( Zuhud ). Rasa kehambaannya begitu tinggi, hingga beliau berkata : “jika semua orang di neraka sudah selesai hukumannya, dan tiggal seorang yang terakhir, aku takut akulah orangnya”. Padahal disebutkan oleh Nabi SAW ,Shodiqul Masduq, bahwa beliau adalah sahabat yang dijamin syurga.

Ketika dilantik menjadi Khalifah, beliau tidak berusaha tidur dalam kesehariannya. Beliau berkata, “ aku tidak dapat tidur di waktu siang,karena takut urusan rakyatku tidak selesai. Dan aku juga tidak dapat tidur di waktu malam,karena takut urusanku dengan Allah tidak selesai”.
Salah satu karamah Sayidina Umar yang lain adalah dengan izin Allah beliau mampu mewujudkan teknologi komunikasi yang super canggih, “the power of taqwa”. Kisahnya, saat itu sayidina Umar sedang berkhutbah di Madinah di hadapan kaum muslimin, tiba-tiba dalam khutbahnya beliau berteriak keras : “Sariyah…pergi ke balik bukit…!” Orang-orang yang hadir saat itu terheran-heran mendengar teriakan beliau yang tiba-tiba. Sampailah beberapa minggu kemudian datang sepasukan kaum muslimin, dipimpin oleh Sariyah bin Zanim Al Khalji, pulang dari medan jihad di Yerusalem, Palestina. Sariyah menghadap Sayidina Umar dan menceritakan pengalamannya. Dia mengatakan bahwa, persis di hari dan waktu yang sama saat sayidina Umar berkhutbah di Madinah itu, Sariyah mendengar suara Sayidina Umar memerintahkan pasukannya agar pergi ke balik bukit. Sehingga di dapati pasukannya selamat dari kepungan musuh yang sangat banyak dan akhirnya tentara muslimin berhasil menduduki Yerusalem. Kisah terkenal ini disebutkan dalam kitab terbitan Beirut berjudul Thabaqat Al Munawi Al Qubra dan Jami’ Karamat Al Auliya’.
Pernah suatu ketika di zaman pemerintahannya, sungai Nil mengalami surut dan kering airnya. Menurut bangsa Qibti ( Mesir ) seorang gadis perawan harus dikorbankan untuk mengalirkan kembali air sungai Nil. Mendengar hal itu Sayidina Amr bin Ash ( Gubernur Mesir saat itu ) mencoba menghalang karena kedatangan Islam telah menghapuskan kepercayaan bangsa Mesir jahiliyah tersebut. Tetapi usahanya tidak membuahkan hasil, sehingga beliau mengirim surat rujukan kepada Khalifah Umar ibnu Khatab. Membaca surat Amr bin Ash, Sayidina Umar kemudian segera menulis sebuah surat yang maknanya : “ Surat ini dikirim oleh Umar, Amirul Mukminin kepada sungai Nil. Wahai sungai Nil…Apabila air yang mengalir pada tubuhmu bukan dari kuasa Allah maka kami tidak memerlukanmu sama sekali, Tapi kami yakin Allah Maha Berkuasa dan kepadaNya kami memohoin supaya kamu mengalir ”.Kemudian Sayidina Umar memerintahkan Amr bin Ash untuk mengirimkan surat itu kepada sungai Nil dengan cara dihanyutkan ke dalam sungai Nil.Sungguh ajaib, dengan serta merta air sungai itupun mengalir seperti sedia kala sehingga akhirnya pengorbanan gadis perawan urung dilakukan, dan kewibawaan Islam pun naik di Mesir. Dalam kisah ini dapat kita fahami bahwa sungai Nil, sebagai makhluk Allah, pun taat pada khalifahNya. Kisah ini ditulis dalam kitab besar Nadharu Asasul Hukmiatul Islamiyah.

Kemudian, pernah suatu ketika di jazirah arab terjadi gempa bumi dahsyat. Waktu itu Sayidina Umar sudah diangkat sebagai Khalifah. Sungguh di luar lojik, hanya dengan tongkatnya Sayidina Umar memukul bumi yang sedang bergetar itu, sambil berkata : “ wahai bumi,engkau hamba Allah dan aku khalifahNya, mengapa engkau berguncang, apakah aku pernah bertindak tidak adil ke atas engkau?”. Dengan izin Allah bumi pun berhenti berguncang, bumi sebagai makhluk Allah pun ikut tunduk patuh kepada khalifah Allah, ”wakil Tuhan” di zaman itu. Dalam dunia wali orang seperti ini disebut Sohibuz Zaman / Ghauts / Khutubul Auliya’/ Sulthanul Auliya’ yaitu pemilik zaman, yang kepadanya Allah mewariskan bumi ini.
READ MORE - SAYYIDINA UMAR IBN KHATAB AL-FARUQ R.A.

SAYYIDINA ABU BAKAR AS-SIDIQ R.A

Beliau lahir dua tahun beberapa bulan setelah kelahiran rasulullah saw di kota mekkah. Atau pada tahun 51 sebelum hijriah (751 m). Nama lengkapanya abdullah bin utsman bin ‘amir bin ka’ab at-taimy al-qursy. Dulunya bernama abdul ka’bah, kemudian rasulullah mengantinya dengan nama abdullah. Gelarnya as-sidiq; orang percaya. Ketika terjadi peristiwa isro’ dan mi’roj, beliaulah termasuk orang pertama yang percaya dengan peristiwa itu. Maka beliau digelari as-siddiq. Nama panggilanya abu bakar. Ibunya bernama ummul khoir salma binti shahr bin ‘amir .

Di kalangan kaumnya dikenal dengan al-‘atiq. Konon ceritanya rasulullah pernah berkata; “kamu adalah hamba allah yang dijauhkan (‘atiq) dari api neraka”. Maka sejak itulah terkenal di kalangan sahabat dengan sebutan al-‘atiq. Pendapat lain mengatakan karena wajahnya yang ganteng. Pendapat lain karena banyak memerdekakan budak muslim seperti bilal. Pendapat lain karena tidak ada cacat dalam nasabnya.

Mengenai pribadinya, ibn asakir meriwayatkan dari abdullah bin az-zubair, “ketika para sahabat sedang kumpul dalam suatu majlis, seseorang bertanya kepada abu bakar. “apakah kamu pernah minum khomer pada masa jahiliyah?” kata orang itu. Beliau menjawab, “aku berlingung kepada allah. “kenapa” orang itu bertanya. “saya dapat menjaga kehormatan diriku dan muruah. Sebab orang yang minum khomer hilang kehormatannya dan muruahnya” jawab abu bakar. Orang pun melaporkan kepada rasulullah. Rasulullah berkata, “abu bakar benar. Abu bakar benar.” dari aisyah ‘aisyah r.a. Berkata, “demi allah, abu bakar r.a. Belum pernah membaca syair pada masa jahiliyah dan islam. Beliau dan utsman bin ‘affan tidak pernah meminum khomer/arak.”

pada waktu rasulullah wafat, kaum muslimin mulai guncang dan kebinggungan akan keberlangsungan islam. Melihat kondisi yang sangat membahayakan ini, beliau dengan lantang berkata; “ siapa diantara kalian yang menyembah muhammad (rasulullah), maka muhammad sudah wafat. Tapi barangsiapa menyembah allah swt maka allah swt itu hidup dan tidak akan mati.” mendengar ucapan itu, maka tenanglah hati umat islam. Hingga akhirnya allah swt menguatkan keimanan mereka.

Selepas rasululllah wafat, beliau diangkat menjadi kholifah oleh kaum muslimin pada tahun 11 h. Inilah sejarah pergantian kempimpinan umat islam untuk pertama kali yang didasarkan pada syuro’ (musyawarah). Pada waktu dipilih menjadi kholifah beliau berkata; “aku diangkat menjadi pemimpin kalian tapi bukan berarti aku yang paling baik dari kalian. Sekiranya aku melakukan kebaikan maka kalian harus menolongnya dan sekiranya aku berbuat salah maka kalian wajib meluruskan dan mengingatkan. Kejujuran adalah amanah dan berdusta adalah khianat dan pengingkaran terhadap yang benar. Orang-orang yang lemah diantara kalian, bagiku adalah orang kuat hingga aku memberikan haknya. Dan orang-orang yang kuat diantara kalian, bagiku adalah lemah hingga aku ambil hak-hak itu darinya.”

istri-istri beliau; ummu rumman binti ‘amir, qutailah binti abdul izza, asma’ binti ‘umais dan habibah binti khorijah. Lahir dari perkimpoinya tiga anak laki-laki dan tiga perempuan. Tiga anak laki-laki itu; abdullah, abdurrahman dan muhammad. 3 anak perempuannya; asma’, aisyah (istri rasulullah) dan ummu kultsum.

Beliau menjabat sebagai kholifah selama dua tahun dan tiga bulan. Wafat pada tahun 12 h berumur 63 tahun, seperti umur rasulullah ketika wafat. Dikuburkan di dekat kuburan rasulullah di kamar aisyah ra. Sebelum wafatnya, beliau pernah berwasiat kepada umar bin khottob untuk menjadi kholifah.

Beliau sangat pandai dalam ilmu nasab (silsisah keturunan) suku dan juga penceritaannya. Beliau termasuk dari ketua-ketua quraisy di masa jahiliyah yang disegani dan senangi karena sikapnya yang bijak. Selama hidupnya belum pernah minum khomer dan menyembah patung. Ketika di yaman, seorang syeik dari al-azd pernah memberitahu tentang hadirnya kenabian muhammad saw. Beliau orang pertama yang meyakini dan mempercayai kenabian muhammad. Seperti halnya berita yang disampaikan waroqoh bin naufal kepada beliau mengenai kenabian muhammad saw.

Pada waktu hijrah, beliau menjadi teman rasulullah dalam perjalanan hijrah itu, begitu juga ketika rasulullah berada di gua hira. Hal ini bisa dibaca dalam firman allah; “…sedang ia salah seorang dari dua sahabat pada waktu di gua hiro..(qs.at-taubah:40). Ketika melakukan ibadah haji beliau orang pertama menjadi amir (ketua) rombongan kaum muslimin dalam haji tersebut dan orang pertama yang menjadi imam sholat setelah wafatnya rasulullah.

Diantara orang-orang yang memeluk islam atas jasanya adalah; az-zubair bin al-awwa, utsman bin affan, abdurrahman bin ‘auf, saad bin abu waqos, tholhah bin ubaidillah, abu ‘ubaidah bin jarrah. Mereka termasuk 10 orang-orang yang diberitakan masuk surga. Termasuk beliau juga.

Beliau telah memerdekakan 7 orang; bilal, ‘amir bin fahiroh, zanirah, nahdiyah dan anak perempuannya, jariyah bani muammal dan ummu ‘abis. Mengumpulkan mushaf yang tersebar di pelbagai pelosok. Beliau juga orang yang sangat tegas memerangi orang-orang murtad (keluar dari islam) dan engan membayar zakat. Pada masa beliau memangku kholifah, syiar islam tersebar melalui penaklukan ke pelbagai negara. Inilah sejarah awal penaklukan dalam islam. Ada 142 hadits yang diriwayatkankan. Diantara riwayat hadits dari beliau; suatu ketika abu bakar bertanya kepada rasulullah. “wahai rasulullah, ajarkan kepadaku do’a dalam sholat.” rasulullah menjawab: “berdoalah dengan ini; “allahumma inni dholamtu nafsi dhulman katsiro…(wahai allah, aku banyak berbuat kedhaliman, tidak ada orang yang boleh berikan ampunan dosa-dosa dholimku kecuali engkau. Maka berilah ampunana atas semua dosa-dosaku dan berilah kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya engkau adalah dzat yang maha pemberi ampunan dan kasih sayang” (hr.bukhori)

apa kata rasulullah mengenai pribadinya: “tidak seorangpun diantara manusia yang lebih banyak dari abu bakar dalam menjaga diriku denganm jiwa dan hartanya. Sekiranya dibolehkan aku menjadikan teman baik diantara manusia niscaya saya jadikan abu bakar sebagai teman baik. Akan tetapi pertemanan dan persaudaraan atas nama islam itu lebih utama. Silahkan kalian tutup setiap pintu untukku di masjid kecuali pintu abu bakar (hr.bukhori).

Dalam hadits lain disebutkan,suatu ketika rasulullah bertanya kepada para sahabat; “ siapa diantara kalian yang hari ini berpuasa.” abu bakar menjawab; “saya, wahai baginda rasul. “siapa diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin?” abu bakar menjawab; “saya, wahai rasul.” “siapa diantara kalian telah mendoakan dan menjenguk orang sakit?” abu bakar menjawab; “saya, wahai baginda rasul.” setelah itu rasulullah bersabda; “sekiranya sifat dan perbuatan tersebut dilakukan oleh seseorang maka kelak dia akan masuk surga.”

wasiat abu bakar kepada umar sebelum ajal menjemputnya sebagaimana diceritakan abdurrahman bin abdullah bin sabith “pada waktu ajal hendak menjemputnya, beliau memangil umar. Beliau berkata, “wahai umar, ingatlah bahwa ada amalan untuk allah yang dilakukan siang hari yang allah tidak akan menerima amalan itu di waktu malam. Dan ada amalan untuk allah yang di malam hari yang tidak akan diterima di waktu siang. Allah tidak menerima amalan sunnah sehingga yang wajib dilaksanakan. Timbangan amal baik di akherat menjadi berat karena mengikuti jalan kebenaran di dunia hingga allah beratkan timbangan atas mereka. Dan timbangan (baik) manusia berkurang di akherat karena manusia mengikuti jalan sesat/batil selama di dunia

ketika beliau wafat, ali bin tholib berkata; “semoga allah memberikan rahmat kepada abu bakar, kamu adalah saudara rasulullah, kawan dekat, penghibur duka lara, dan kawan dalam bermusyawarah. Kamu adalah orang pertama yang berislam, yang paling ikhlas beriman kepada allah dan rasulul-nya, yang paling baik dalam persahabatan dan paling mulia diantara kaum lainnya. Kamu juga yang paling serupa dengan rasulullah ketika diam dan gerak. Allah telah angkat derajat namamu, wahai abu bakar dalam tingkatan yang paling tinggi. Allah berfirman; “ dan orang yang percaya dengan kenabian muhammad.

Dalam riwayat asakir dari al-ashma’y disebutkan bahwa abu bakar jika dipuji beliau berdo’a “ya allah engkau lebih tahu tentang diriku dan saya lebih tahu dari mereka. Ya allah berikan kebaikan padaku dari apa yang mereka sangkakan. Ampunilah aku dari apa yang mereka tidak tahu dan jangan azab aku dari apa yang mereka katakan.”
Abdurrahman bin Abu Bakar r.a. menceritakan bahwa ayahnya datang bersama tiga orang tamu hendak pergi makan malam dengan Nabi Saw. Kemudian mereka datang setelah lewat malam. Istri Abu Bakar bertanya, "Apa yang bisa kau suguhkan untuk tamumu?" Abu Bakar balik bertanya, "Apa yang kau miliki untuk menjamu makan malam mereka?" Sang istri menjawab, 'Aku telah bersiap-siap menunggu engkau datang." Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan bisa menjamu mereka selamanya." Abu Bakar mempersilakan para tamunya makan. Salah seorang tamunya berujar, "Demi Allah, setiap kami mengambil sesuap makanan, makanan itu menjadi bertambah banyak. Kami merasa kenyang, tetapi makanan itu malah menjadi lebih banyak dari sebelumnya."

Abu Bakar melihat makanan itu tetap seperti semula, bahkan jadi lebih banyak, lalu dia bertanya kepada istrinya, "Hai ukhti Bani Firas, apa yang terjadi?" Sang istri menjawab, "Mataku tidak salah melihat, makanan ini menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya." Abu Bakar menyantap makanan itu, lalu berkata, "Ini pasti ulah setan." Akhirnya Abu Bakar membawa makanan itu kepada Rasulullah Saw dan meletakkannya di hadapan beliau. Pada waktu itu, sedang ada pertemuan antara katun muslimin dan satu kaum. Mereka dibagi menjadi 12 kelompok, hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah keseluruhan hadirin. Beliau menyuruh mereka menikmati makanan itu, dan mereka semua menikmati makanan yang dibawa Abu Bakar.
Aisyah r.a. bercerita, 'Ayahku (Abu Bakar Shiddiq) memberiku 20 wasaq kurma (1 wasaq = 60 gantang) dari hasil kebunnya di hutan. Menjelang wafat, beliau berwasiat, `Demi Allah, wahai putriku, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai ketika aku kaya selain engkau, dan lebih aku muliakan ketika miskin selain engkau. Aku hanya bisa mewariskan 20 wasaq kurma, dan jika lebih, itu menjadi milikmu. Namun, pada hari ini, itu adalah harta warisan untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu, maka bagilah sesuai aturan Al-Qur'an.' Lalu aku berkata, `Ayah, demi Allah, beberapapun jumlah harta itu, aku akan memberikannya untuk Asma', dan untuk siapa lagi ya?' Abu Bakar menjawab, `Untuk anak perempuan yang akan lahir."' (Hadis sahih dari `Urwah bin Zubair)

Menurut Al Taj al-Subki, kisah di atas menjelaskan bahwa Abu Bakar r.a. memiliki dua karamah. Pertama, mengetahui hari kematiannya ketika sakit, seperti diungkapkan dalam perkataannya, "Pada hari ini, itu adalah harta warisan." Kedua, mengetahui bahwa anaknya yang akan lahir adalah perempuan. Abu Bakar mengungkapkan rahasia tersebut untuk meminta kebaikan hari `Aisyah r.a. agar memberikan apa yang telah diwariskan kepadanya kepada saudara-saudaranya, memberitahukan kepadanya tentang ketentuan-ketentuan ukuran yang tepat, memberitahukan bahwa harta tersebut adalah harta warisan dan bahwa ia memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki. Indikasi yang menunjukkan bahwa Abu Bakar meminta kebaikan hati 'Aisyah adalah ucapannya yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang ia cintai ketika ia kaya selain `Aisyah (putrinya). Adapun ucapannya yang menyatakan bahwa warisan itu untuk dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuanmu menunjukkan bahwa mereka bukan orang asing atau kerabat jauh.

Kctika menafsirkan surah Al-Kahfi, Fakhrurrazi sedikit mcngungkapkan karamah para sahabat, di antaranya karamah Abu Bakar r.a. Ketika jenazah Abu Abu Bakar dibawa menuju pintu makam Nabi Saw., jenazahnya mengucapkan "Assalamu alaika ya Rasulullah, Ini aku Abu Bakar telah sampai di pintumu." Mendadak pintu makam Nabi terbuka dan terdengar suara tanpa rupa dari makam, "Masuklah wahai kekasihku."
READ MORE - SAYYIDINA ABU BAKAR AS-SIDIQ R.A

Tuesday, October 13, 2009

PETIKAN-PETIKAN UCAPAN SYEKH ABDUL AZIZ AD-DABBAGH RA.

DALAM KITAB ‘UQUDUL ALMAS BIMANAQIBIL IMAM AL-‘ARIF BILLAH AL-HABIB AHMAD BIN HASAN AL-‘ATH-THAS, KARYA HABIB ALWI BIN THAHIR AL-HADDAD RHM.

Tokoh ‘Arif, Syekh Ahmad bin al-Mubarak al-Fasi di dalam manaqib gurunya Syarif Quthub al-‘Arifin Abdul Aziz bin Mas’ud ad-Dabbagh al-Idrisi al-Hasani al-Fasi mengungkapkan bahwa ia mendengar Beliau Rahimahullah berkata:
“Orang-orang yang sudah mencapai tingakat karamah para Wali Ra., meski mereka bermanfaat bagi umat manusia pada segi pemahaman tentang Kewalian, tetapi dapat banyak bermadharat bagi mereka lantaran mereka tidak menjelaskan sebatas hal-hal karamah. Mereka sedikitpun tidak menjelaskan mengenai kiat-kiat yang dilakukan para Wali sehingga mereka mendapatkan karamah-karamah tersebut. Bahkan orang yang memikirkan ucapan mereka, meski sudah melihat karamah demi karamah, keanehan demi keanehan, dan kasyaf demi kasyaf, masih juga beranggapan bahwa seorang Wali tidak mampu membuktikan hal-hal yang diajukan kepadanya. Dan tidak ada yang bersifat ajaib walau sudah jelas. Lalu ia pun terjerumus dalam kebodohan yang mendalam. Sebab, ia beranggapan bahwa seorang Wali memiliki sifat-sifat ketuhanan. Dan bahwa ia dapat melakukan sekehendaknya, tidak mempunyai kelemahan. Dan memiliki sifat-sifat Nubuwwah, yaitu terbimbing dari kesalahan”.
“Kebaikan yang terlihat pada tangan seorang Wali itu berasal dari berkah Rasulullah Saw, sebab iman yang merupakan penyebab munculnya kebaikan itu hanya dapat dicapai melalui perantaraan Nabi Saw. Berkaitan dengan Zat Wali, maka sama dengan seluruh zat-zat lain. Berbeda dengan para Nabi, karena mereka telah dikaruniai ‘ishmah. Mereka makan dan memperkuat diri melalui makrifat Allah Ta’ala. Dalam cara yang mereka tidak membutuhkan cara lain untuk diikuti, tidak membutuhkan guru untuk diteladani. Kebenaran telah bersemayam di dalam zat mereka. Ia merupakan huruf-huruf Nubuwwat yang telah tercetak, membimbing mereka ke metode yang kokoh dan jalan yang lurus”.
************
“Sekiranya umat manusia yang menyusun kitab-kitab tentang karamah, mereka bersedia menjelaskan keadaan Wali dalam karangannya, lalu menjelaskan hal-hal yang terjadi padanya sesudah memperoleh karamah, berkaitan dengan peningkatan amal sholeh mereka dan juga hal-hal yang bersifat Fana’, niscaya umat manusia akan memahami kondisi Wali sesungguhnya. Mereka akan mengerti, bahwa ketika seorang Wali berdo’a adakalanya dikabulkan dan adakalanya tidak. Sebagaimana terjadi demikian pada kalangan para Nabi dan Rasul mulia, semoga terlimpah bagi mereka sholawat serta salam”.
Ditambahkan pula bahwa seorang Wali adakalanya meningkatkan kebaktian melalui anggota tubuhnya dan adakalanya sebaliknya, seperti orang lain. Yang membedakan status Wali hanya satu hal saja, yaitu bahwa Allah Ta’ala mengaruniakan keistimewaan kepadanya dalam bentuk makrifat, dan melimpahinya dengan berbagai pembaukaan (futuhat). Dalam pada itu, kalaupun terlihat fenomena sebaliknya, maka itu hanyalah sebatas pengamatan kita, bukan secara hakiki.
Sebab penyaksian yang diperolehnya tidak selaras dengan sikap yang berlawanan. Perbuatan maksiat akan dapat menghalangi sedemikian rupa sehingga tidak dapat dicapai kondisi ‘ishmah, sehingga dengan itu pula Kewalian setara dengan Nubuwwah. Sebab terhalang dari perbuatan maksiat adalah sifat zat para Nabi, tetapi bersifat nisbi pada para Wali. Artinya masih mungkin akan sirna pada para Wali, tetapi tidak mungkin sirna pada kalangan para Nabi. Sedang rahasianya adalah seperti yang sudah kami jelaskan. Artinya, bahwa sisi baik para Nabi bersumber dari zatnya sendiri, sedang sisi baik para Wali buka dari zat mereka. Jadi ‘ishmah para Nabi bersifat esensial, sedang ‘ishmah para Wali bersifat kenisbian (relatif).
Oleh karena itu, seorang ‘Arif yang sempurna apabila terjadi pada dirinya seseuatu yang bersifat ganjil, maka itu bukanlah bentuk hakiki. Itu ditujukan sebagai suatu ujian bagi orang yang menyaksikannya dan bahan suatu ujian, cobaan batin.
Kami memohon kepada Alah Ta’ala, kiranya Dia berkenan membimbing kami agar mempercayai para Wali-Nya sebagaimana Dia telah membimbing kita percaya kepada para Nabi-Nya As.
************
Orang yang memahami sejarah Nabi Saw menyangkut makan minum Beliau, tidur dan bangunnya, dan juga segenap sikap Beliau di dalam rumahnya, niscaya juga akan memahami sejarah peperangan dan pertempuran Beliau. Betapa sesekali Beliau mengalami kemenangan dan sesekali kalah. Betapa Beliau dituntut oleh sejumlah sahabat-sahabat Beliau, lalu mereka pergi tidak mematuhi Beliau. Sebagaimana terjadi pada peperangan ‘Ar-Raji’ dan ‘Bi’r Ma’unah’. Itupun akan mengerti apa yang terjadi pada masa perjanjian Hudaibiyah dan sebagainya. Semua itu merupakan rahasia Ketuhanan. Di situ Allah Ta’ala melihat sikap Nabi kita Saw.
************
“Para Wali dapat melakukan beberapa hal besar yang memang telah ditundukkan oleh Allah SWT dalam hal itu. Sehingga perbuatan-perbuatan tersebut mengundang rasa kagum. Apabila Anda mencermati dengan mata hakiki, niscaya akan terlihat oleh Anda bahwa pelakunya adalah Allah SWT, sedang mereka hanya pengemban saja seperti makhluk-makhluk lainnya, tidak ada bedanya”.
************
“Sesungguhnya yang menjadi target seorang Wali adalah memperjelas tentang Allah Ta’ala, menyatu denganNya, mengabaikan segala sesuatu selain Dia. Apabila datang seseorang yang bertujuan kepadanya, meminta kepadanya agar hajat dan kebutuhannya dpat dikabulkan, tanpa meminta kepada Tuhannya, dan tanpa upaya memahami-Nya, niscaya sang Wali akan mencaci dan memarahi orang itu. Sang Wali akan menjadi orang yang selamat apabila dapat lolos dari musibah yang diturunkan melalui orang itu. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut: Bahwa cintanya kepada si Wali, bukanlah karena Allah Ta’ala, tetapi karena ia mempunyai keahlian. Seseorang yang cinta kepada orang atas dasar ahli, maka itu merupakan kerugaian yang nyata. Tidak akan turun kepadanya cahaya kebenaran selama-lamanya”.
“Juga karena si Wali melihat dengan pandangan yang jelas bahwa orang itu hendak bergantung kepadanya tanpa bergantung kepada Allah. Sehingga ia hendak melepaskan diri daripadanya. Bahkan si hamba ingin lebih dari itu. Sedang si Wali merasa bahwa ia telah melepaskan ‘kurma’ dan hendak memilih ‘bara’”.
“Kurma ibarat makrifat tentang Allah, berhenti di hadapan-Nya. Sementara bara, ibarat memutuskan hubungan dengan-Nya dan berpegang kepada selain Dia, cenderung kepada duniawi, dan merasa senang dengan perhiasan duniawi.
Di antaranya apabila sang Wali menolongnya dalam memenuhi beberapa kebutuhan dan menerimanya melalui beberapa kasyaf, boleh jadi si hamba justru akan beranggapan bahwa sang Wali itulah yang perlu untuk dimengerti dan yang merupakan dambaan masyarakat, tiada tempat meminta yang lain.
Semua itu adalah kesesatan ang justru membangkitkan marah si Wali kepadanya”.
************
“Perumpamaan seorang Wali adalah laksana seseorang yang bekerja seperti tukang keramik, ia menggerak-gerakkan tangannya dan membentuk dengan angggota tubuhnya. Dalam pada itu ia pun mempunyai sejumlah simpanan yang juga dibutuhkan orang lain, seperti bahan makanan dan sejenisnya. Simpanan-simpanan itu meskipun ada padanya, tetapi hatinya tidak menjadi risau karenanya dan tidak di hati, tidak sebanding dengan barang sepele. Ia tidak suka berbicara kecuali berkaitan dengan soal keramik dan pekerjaannya. Ia pun tidak suka orang lain berbicara panjang lebar pada persoalan-persoalan lain. Bahkan membencinya sampai orang yang mangajaknya berbicara dapat disakiti oleh lelaki tersebut.
Manakala datang dua orang yang sudah memahami perangainya dan betapa ia tidak suka membicarakan hal lain kecuali tembikar, ia pun menginginkan sebagian dari simpanannya. Maka yang lebih tepat dan lebih cerdik adalah orang yang mengjaknya berbincang-bincang perihal tembikar. Menanyakan soal pekerjaannya, bagaimana ia bekerja dan terus menerus bersikap seperti itu sampai ia memperoleh simpati dan cinta yang besar dari lelaki itu. KEtika kemudian ia meminta sesuatu dri simpanannya, niscaya akan diberikan sebagian kepadanya dan tidka akan menyakitinya. Sedang lelaki satunya yang sebelumnya datang kepada lelaki itu, sejak pertama sudah meminta sesuatu dari simpanannya, mengajak bercakap-cakap soal barang-barang (makanan) simpanannya, sekiranya ia selamat tidak dipukul keramik kepalanya, maka itu sudah beruntung,. Jadi, keuntungannya maksimal tidak dipukul, itu saja.
Inilah perumpamaan seorang Wali, tiada memiliki karya, tiada keahlian, kecuali makrifat Yang Haq, cara-cara untuk sampai kepada-Nya. Tidak suka berbicara kecuali tentang Dia, tidak suka berkumpul kecuali untuk-Nya. Tiada jalan lain kecuali dari Dia. Tiada kedekatan kecuali kepada-Nya. Orang yang pemahamannya seperti ini, niscaya akan beruntung di dunia dan akhirat, tetapi yang memahaminya selain dengan cara ini, niscaya akan menjadi sebaliknya”.
************
Suatu ketika Beliau pernah ditanya: “Tuanku, semoga Tuan dirahmati Allah, apakah perbedaan antara Thariqah Waliyullah al’Arif asy-Syadzili beserta para pengikutnya, dengan Thariqah al-Ghazali Rahimahullah beserta para pengikutnya?”
Metode kelompok pertama seluruhnya berkaitan dengan rasa syukur, senang menerima karunia nikmat tanpa harus menempuh susah payah dan tanpa beban. Sedang kelompok kedua, metodenya melalui latihan(riyadhah) menentang kesulitan, bersusah payah, tidak tidur malam, menahan lapar, dan sebagainya. Wahai Tuan, manakah kiranya yang ideal untuk diteladani?
Asy-Syadzili hanya memerintahkan agar bersyukur sesudah taqarrub ke arah wushul (sampai kepada tujuan [makrifat]), ataukah dalam posisi seperti itu saja? Ataukah ia memerintakan agar bersyukur dan bersuka ria kepada Allah sejak pertama beranjak dan pada saat ia memulai?
Dan mungkinkah kedua Thariqah itu dilaksanakan oleh orang yang sama? Ataukah tidak memungkinkan bagi salah satunya untuk dicapai kecuali harus dengan meninggalkan yang lain?
Maka jawab Syekh Abdul Aziz ad-Dabbagh Ra.:
Bahwa yang menjadi dasar Thariqah adalah syukur itu sendiri. Sikap itu pulalah yang menjadi Susana hati para Nabi maupun orang-orang yang disucikan di kalngan para sahabat beserta yang lain. Artinya, beribadah kepada Allah Ta’ala melalui peribadatan yang tulus tanpa berharap keuntungan-keuntungan lain, disertai dengan kesadaran akan kelemahan diri dan kekurangan, tidak kuasa untuk secara sempurna memenuhi hak ketuhanan. Sikap seperti itu kokoh di dlaam hati seiring dengan bergulirnya waktu dan zaman.
Manakala Allah Ta’ala melihat adanya kejujuran seseorang dalam hal itu, niscaya Dia akan mengganjar mereka dengan karamah-Nya, baik berupa ‘penglihatan-penglihatan’ (futuh) dalam makrifat-Nya. Ia akan memperoleh rahasia-rahasia iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ketika kelompok lain melihat hasil yang diperoleh mereka itu, seperti ‘penglihatan’, lalu persoalan ‘penglihatan’ itu pun menjadi target serta dambaan mereka. Selanjutnya mereka pun mengejarnya dengan jalan berpuasa dan beribadah malam, bergadang dan berkhalwat. Lalu mereka pun sukses memperolehnya sebagaimana mereka yang mendapati sebelumya itu.
Jadi, hijrah melalui Thariqah ‘Syukur’ merupakan langkah pertama menuju Allah dan Rasul-Nya. Bukan ke arah memperoleh penglihatan (futuh) atau penyingkapan (kasyf). Sedang melalui Thariqah ‘Riyadhah’ adalah ditujukan untuk memperoleh ‘penglihatan’ dan memperoleh kedudukan (maqam). Melalui metode yang pertama adalah perjalanan batin. Sedang yang kedua adalah perjalanan tubuh. Penyingkapan jenis pertama bersifat datang dengan sendirinya. Tidak dapat diperoleh hamba yang berupaya mencapainya.
Ketika seorang hamba sedang berada pada posisi menuntut taubat dan memohon ampunan dari dosa-dosa, maka tiba-tiba datanglah kepadanya penglihatan yang nyata.
Kedua Thariqah tersebut sudah benar. Tetapi Thariqah ‘Syukur’ adalah lebih benar dan lebih tulus. Dan kedua Thariqah itu juga melalui jalur ‘riyadhah’ (berlatih), tetapi yang pertama adalah berlatih batin dengan segala kaitan berkenaan hak-hak Allah Ta’ala, tekun menanti di Pintu-Nya, berlindung kepada Allah Ta’ala baik di dalam gerak maupun diam, menjauhi kelalaian-kelalaian yang datang silih berganti di antara waktu-waktu yang menjelang.
Kesimpulannya, riyadhah di sini berkaitan dengan suasana hati terhadap Allah ‘Azza wa Jalla dan konsisten dengan sikap begitu, wlaupun secara lahiriyyah tidak terlihat banyak-banyak beribadah. Oleh karena itu terkadang si pelaku melakukan puasa terkadang tidak. Terkadang melakukan ibadah malam terkadang tidur, menggauli istri, dan melaksanakan segenap aktivitas syariat yang berlawanan dengan riyadhah tubuh”.
………………………………..
Kemudian, setelah memperoleh penglihatan, ada sebagian dari mereka yang kembali pada niat semula, hatinya terkait dengan berbagai hal yang disaksikannya pada alam-alam lain. Merasa senang karena memperoleh penyingkapan, berjalan di atas air, berjalan dengan mengambang, dan berpendapat bahwa semua itu adalah tujuan akhirnya.
Ini termasuk orang-orang yang terlepas hati mereka dari Allah ‘Azza wa Jalla sejak langkah pertama dan juga pada akhirnya. Dan itu termasuk amal yang paling merugi. Yaitu orang-orang yang kandas upayanya selama di dunia, sedang ia menyangka bahwa ia telah berbuat sebaik-baiknya.
Ada juga dari mereka yang mengerahkan niatnya sesudah memperoleh penampakkan, dan Allah Ta’ala merahmati mereka, memegang tangannya, dania pun menambatkan hatinya kepada hak-hak Alah Ta’ala dan menjauhi dari selain-Nya. Inilah kondisi orang-orang yang juga memperoleh ‘penglihatan’ yang pada langkah pertamanya melalui Thariqah ‘Syukur’. Betapa jauh perbedaan antara kedua cara tempuh tersebut. Dan terlihat jelas hal-hal yang menjadi taget pelaku-pelakunya.
Kesimpulannya, perjalanan melalui Thariqah pertama adalah perjalanan hati, sedangkan Thariqah kedua adalah perjalanan tubuh. Niat pada kelompok pertama adalah tulus. Sedang pada kelompok kedua adalah rancu. Penglihatan yang datang pada kelompok pertama bersifat sekonyong-konyong, bukan melalui upaya pencapaian dari pihak sang hamba. Jadi, bersifat ‘Rabbani’. Sedang perjalanan pada kelompok kedua dicapai melalui upaya dan sebab. Oleh karena itu perbandingkanlah kedua kelompok tersebut.
Penglihatan jenis pertama, tidak dapat diperoleh kecuali oleh seorang mukmin yang Arif, tersayang dan dekat. Berlawanan dengan penampakkan jenis kedua. Bahkan sering Anda dengar ada dukun-dukun atau rahib-rahib Yahudi yang melakukan berbagai riyadhah, mereka pun dapat memperoleh sebagian karunia yang bersifat ujian (istidraj).
………………………………..
Di sini kami membahas sepenuhnya tentang riyadhah. Ada yang berasal dari orang yang berniat benar, ada yang berasal dari orang yang berniat batil. Kami tidak membahas riyadhah yang dilakukan oleh Abu Hamid al-Ghazali Rahimahullah secara khusus. Sebab beliau adalah seorang Imam hakiki dan seorang Wali yang tulus.
Menyangkut pertanyaan Anda ‘Apakah memungkinkan untuk dilakukan oleh orang yang sama?’ (Artinya memadukan dua Thariqah secara bersamaan)
Jawabnya: Itu mungkin saja. Sebab salah satu dengan yang lain tidak saling bertolak belakang. Jadi memungkinkan bagi seseorang untuk menambatkan hatiya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam segenap gerak dan diamnya, sementara mempergunakan saran lahiriyyah untuk bermujahadah dan riyadhah. Allah- lah yang lebih mengetahuinya”.
************
Yang dimaksud dengan pendidikan (tarbiyah) adalah penjernihan jiwa, membersihkannya dari kotoran, sehingga mampu untuk memikul batin. Dan itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan cara melenyapkan kegelapan yang ada di dalamnya, dan memutuskan ikatan kebatilan dari hadapannya, lalu memutuskan yang batil dari batin. Adakalanya melalui kesucian yang menjadi dasar fitrahnya. Artinya, Allah yang membersihkannya tanpa sarana lain. Dan yang seperti ini adalah kondisi generasi ketiga yang luhur, yang terdiri dari generasi orang-orang yang lebih baik. Sebab ketika itu masyarakat cenderung kepada kebenaran. Mereka menggalinya. Tidur bersama kebenaran, terbangun pun terbangun oleh kebenaran, bergerak bersama kebenaran. Sehingga ketika Allah membukakan hatinya, maka ia dapati akal pikirannya berada di situ. Sekalipun demikian tidak banyak orang-orang menambatkan hatinya kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu mencari upaya untuk dapat mencapai keridhaan keduanya.
Oleh karena itu terdapat banyak kebaikan pada mereka, dan memancar pula cahaya kebenaran dari zat mereka. Bermunculan dari mereka berbagai ilmu dan meningkatnya derajat kesungguhan yang tidak dapat dibayangkan dan tiada terpikulkan.
Pendidikan pada masa-masa ini memang tidaklah dibutuhkan. Manakala seorang Guru berjumpa dengan muridnya, bergaul dengan sikap batin Gurunya, mewarisi nur-nya, maka ia pun akan berbicara di telinganya. Maka secara sepontan akan terjadilah penglihatan (futuh) pada si murid hanya seperti itu saja. Lantaran sucinya diri dan kejernihan pikiran dan kesungguhannya untuk berada di jalan yang lurus. Bahkan adakalanya muncul sebab-sebab dari pihak si Guru, maksud kami lenyapnya kegelapan itu melalui jiwa sang Guru. Tarbiyah seperti itu terjadi pada masa sesudah generasi istimewa berlalu.
Pada saat sudah terjadi kerusakan niat lalu menjadi sirna dan lenyap, akal pikiran menjadi tertambat kepada duniawi. Berupaya untuk memperoleh hawa nafsun dan menganggap suci diri sendiri. Kemudian seorang Guru yang memiliki bashirah (mata hati) mengajar kepada muridnya dan mewariskannya. Ia pun mengenalnya dn memandang kepadanya, tetapi akal pikirannya tetap terikat dengan hal-hal yang batil dan keinginan untuk mengikuti hawa nafsu. Kemudian dirinya pun mengikuti akal. Lalu menjadi lalai bersama orang-orang yang lalai, lupa bersama orang-orang yang lupa, cenderung kepada orang-orang batil. Anggota tubuh bergerak seiring langkah-langkah tidak terpuji. Lantaran akal pikiran yang merupakan pengaturnya sudah terikat dengan kebatilan, bukan kepada kebenaran.
Apabila sudah terdapat kondisi seperti ini, ia pun akan memerintahkannya agar melakukan khalwat dan dikir, mengurangi porsi makan. Dengan cara berkhalwat (mengucilkan diri), ia pun akan terputus hubungan dengan orang-orang yang bermoral rusak yang termasuk kategori orang-orang mati (hatinya). Melalui dzikir akan dapat melenyapkan ucapan-ucapan batil, main-main, dan olok-olok yang terbiasa diucapkan oleh lidah-lidahnya. Dengan mengurangi porsi makan, akan dapat mengurangi uap yang terdapat di dalam darah yang dapat membersihkan hawa nafsu. Kemudian kembalilah akal pikiran untuk menambat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Apabila si murid sudah sampai pada tahap kesucian dan kejernihan seperti ini, maka jiwanya sudah mampu untuk mengemban sir (rahasia). Inilah yang menjadi tujuan Guru dalam men-tarbiyah muridnya dalam melakukan khalwat. Cara-cara seperti itu tetap berlaku sampai satu masa berbaur antara yang benar (haq) dengan yang batil, dan antara cahaya dengan kegelapan. Lalu orang-orang batil membina orang-orang yang datang kepada mereka (untuk berguru) dengan cara memasuki khalwat. Membaca Asma-asma Allah atas dasar niat yang buruk, dengan tujuan yang berlawanan dengan kebenaran. Bahkan adakalanya melibatkan niat-niat untuk mengambil khadam (pendamping/pembantu dari alam ghaib) yang justru akan menjerumuskan mereka ke arah makar kepada Allah dan masuk ke dalam fitnah.
Hal-hal seperti ini terjadi dalam beberapa kurun waktu didapati oleh Syekh Amad Zaruq Rahimahullah dan juga oleh Guru beliau. Lalu beliau memberikan nasehat-nasehat kepada mereka agar membimbing masyarkat untuk kembali meninggalkan pendidikna seperti itu, yang telah banyak melibatkan banyak orang-orang jahat. Agar mereka membawa manusia ke halaman rasa tentram yang di situ tidak ada lagi perasaan takut dan gelisah, yaitu dengan cara mengikuti Kitabullah dan Sunnah yang melalui keduanya itu tidak akan menjadi sesat lagi.
Jadi, penjelasan Beliau Rahimahullah itu dinyatakan dalam bentuk nasehat dan saran agar berhati-hati, bukan semata-mata hendak menghentikan pendidikan hakiki secara mutlak. Tidak mungkin Beliau bersikap seperti itu. Sebab cahaya Nabi Saw itu abadi, kebaikannya adalah lengkap, berkahnya pun bersifat umum sampai hari kiamat”.

Dikutip dari terjemah Buku ‘Wali, Karomah dan Thariqah’, dalam pandangan Al-Habib Alwi b. Thahir al-Haddad. Penerbit Hayat Publishing.
READ MORE - PETIKAN-PETIKAN UCAPAN SYEKH ABDUL AZIZ AD-DABBAGH RA.

Monday, August 31, 2009

Al Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri


Al Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri adalah seorang alim dikenal sebagai orang yang hafal sekaligus mengamalkan Al Qur’an. Beliau selalu berendah hati, trutama dihadapan gurunya Al Habib Abdullah Bin Alwi Bin Syahab, suara beliau tidak pernah terdengar, kepalanya tidak pernah di angkat, seakan akan di atas kepalanya ada burung yang sedang bertengger.

Beliau di cintai oleh hamba-hamba kekasih Allah SWT, mencintai Allah dan mengikhlaskan dirinya untuknya, selalu menasehati yang besar dan yang kecil, penuh kasih sayang, serta selalu berbaik sangka kepada setiap muslim.

Pernah suatu ketika beliau menaiki sebuah lift, dan menjumpai di dalamnya sepasang lelaki dan perempuan barat yang sedang berciuman. Beliau tidak menegurnya justru malah mendoakannya. Seraya berkata” yaa Allah, sebagaimana kau telah senangkan hati mereka di dunia ini, senangkanlah hati mereka di akhirat nanti”.

Dapat juga dikatakan bahwa tidak ada ahlak, amal perbuatan dan ke-tawadhuan para as salaf as salih yang pernah kita dengar, melainkan seluruhnya terangkum dan menjelma dalam diri Al Habib Hasan Asy-syathiri.

Untuk mempersingkat uraian manaqib ini, al faqir selanjutnya akan mengutip penuturan para da’I dan ulama besar tentang Al Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri, antara lain Habib Salim Bin Abdullah Asy-syathiri, Al Habib Abu Bakar Bin Ali Al Masyhur, Al Habib Umar Bin hafidz, Al Habib Abdullah Bin Ahmad Al Haddad, Al Habib Husein Bin Muhammad Al Haddar, Al Habib Ja’far Bin Muhammad Assaqaf, Gubernur Hadhramaut ustadz Abdul Qadir Ali Hilal, Al Habib An Najib Umar Bin Abdurahman Al Attas, dalam peringatan 40 hari wafatnya almarhum Al Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri di kota tarim dan jedah.

Al Habib Salim Bin Abdullah Asy-syathiri berkata, Al marhum adalah As Sayyid Al Faqih, Al Alim Al Allamah Ad Da’I ilallah, figur bagi para pencari kebenaran, pendidik bagi parapelusuk kejalan Allah SWT, Al Habib Hasan Bin Abdullah Bin Umar Bin Ahmad Bin Umar Bin Alwi Asy-syathiri Bin Ali Bin Qadhi Ahmad Bin Muhammad asadullah fi ardhihi Bin Hasan At Turabi Bin Ali Bin Al Faqih Muqaddam Muhammad Bin Muhammad Shahibul Mirbath Bin Khali Qasam Bin Alwi Bin Muhammad Maula Shauma’ah Bin Alwy maula sumul Bin ‘Ubaidillah Bin Al Muhajir Illah Ahmad Bin ‘Isa Bin Muhammad An Naqib Bin Ali Al Uraidhi Bin Ja’far Ash Shadiq Bin Muhammad Al Bagir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husein As-sibth Bin Al Imam Amiril Mu’minin Ali Bin Abi Thalib sekaligus putra sayidatina Fatimah Az-zahra Al Batul Binti Sayyidina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama.

Al Habib Hasan menimba ilmu dari ayahandanya Al Habib Abdullah Bin Umar Asy-syathiri, serta maha guru beliau Al Arif billah Al QuthbAl Muhab Al Habib Alwi Bin Muhammad Bin Syahab. Selain itu Al marhum Al Habib Hasan juga sempat beruru kepada Murid Murid senior ayahanda beliau, antara lain syeikh Mahfuzh Bin Ustman, Syeikh Umar ‘Awadh Haddad dan Syeikh Salin bukair ba ghaitsan.

Di bawah bimbingan ayahanda beliau, Al Habib Hasan juga banyak mempelajari berbagai macam kitab. Ayahanda beliau wafat pada saat beliau tengah menimba ilmu(tafsir) yang ketka itu beliau sampai pada tafsir ayat Al Qur’an yang berbunyi
“pada hari ini ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah ku cukupkan kepadamu nikmatku , dan telah ku ridhai Islam sebagai agamamu” (QS Al Ma’dah: 3

Di setiap penghujung malam, Al Habib Hasan Asy-syathiri sering kali di ajak ayahandanya pergi ke masjid-masjid tarim, dan berziarah kemakam Zanbal serta inat. Setiap kali menziarahi makam Syeikh Abi Bakar Bin Salim, Habib Abdullah Bin Umar Asy-syathiri selalu berkata “ wahai syeikh Abi Bakar, sungguh aku telah membimbing dan mendidik putramu Hasan bin Ismail, karena itu kumohon bimbinglah dan didiklah putraku Hasan.

Al Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri memiliki hubungan yang sangat erat dengan para gurunya terutama guru besar beliau Habib Alwi Bin Abdullah Bin Syahab yang selalu menghormati dan memujinya. Pernah suatu saat Al Habib Alwi Bin Abdullah Bin Syahab berkata di depan rekan-rekannya, “Hasan Bin Abdullah adalah putra ruhku(Walad Ruhi) dan ketika didepan Al Habib Alwi beliau kehabisan suaranya pada saat sedang membaca qasidah, Habib Alwi Berkata “dia perlu di beri gula, tetapi gulanya harus dari Al Faqih Al Muqaddam Muhammad Bin Ali Ba’alwy.”

Tiangkat pendidikan, ma’rifat dan kekhusu’an Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri dalam beribadah cukup tinggi. Beliau senantiasa mendawamkan qiyamul lail, tiada henti dalam mendidik, mengajar dan membimbing umat, seperti yang dilakukan oleh datuk-datuknya, Semoga Allah mencurahkan Rahmat dan keridhaan-nya kepada mereka.

Al Habib Umar Bin Hafidz berkata:

Sesunguhnya rahasia perkumpulan kita disini adalah merupakan sebuah bentuk persiapan untuk perkumpulan kita kelak (di hari kiamat) di bawah naungan Al Alim Al Allamah Abdullah Bin Umar Asy-syathiri begitu pula Al Habib Hasan Bin Abdullah Bin Umar Asy-syathiri. Keduanya kelak dihari kiama adalah pewaris kepemimpinan Rasulullah SAW, manusia termulia di padang mahsyar.
Oleh karena itu, makna dari perkumpulan kita ini sangatlah besar, sesuai dengan besarnya amanat-amanat yang beliau pikul, yaitu amanat mendekatkan mahluk dengan Khaliq, amanat menyucikan jiwa dari aneka penyakit hati dan kekotoran, amanat menjaga cara Hidup as salafu ash shalih yang merupakan pewaris Al Musthafa Rasulullah SAW, amanat menyayangi yang kecil dan menghormati yan muda, amanat mengisi waktu-waktu keseharia didalam ataupun diluar negri dengan zikir dan ilmu, serta amanat kepedulian kepada orang-orang dekat maupun orang jauh. Itu semua merupakan sekumpulan sifat baik yang selalu kita saksikan perwujudannya dalam kehidupan Al Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri semoga Allah membahagiakan Jiwanya dengan sekian banyak buah karya yang telah beliau persembahkan untuk kita, cahaya kebenaran yang beliau berikan kepada kita serta segala hal positif lainnya yang beliau titipkan baik pada keturunan maupun pada muridnya yang menyebar di berbagai tempat di dunia ini.
READ MORE - Al Habib Hasan Bin Abdullah Asy-syathiri